SHALAT; Tanda dan Kesan

Suatu ketika di hari yang cerah untuk belajar Tafsir Ahkam seorang Ustadz, Ustadz Mulyadi kami menyebut beliau membacakan Al-qur’an Surat 2: (43), dengan fasih, penjelasan tentang nilai-nilai yang terejawantahkan dalam shalat dan hubungan-hubungannya dengan realitas sosial serta Pembacaannya tentang situasi kontemporer menggambarkan intelektualitasnya yang mumpuni dalam tafsir realitas dan merakitnya dalam konteks wahyu. beliau bersahaja bahkan tanpa peci di kepalanya, walaupun kelihatan berpenampilan nyentrik dan nyeleneh tapi di kelas beliau mampu membuat kami tertunduk malu dan tertawa getir.

 ”Jika hidup adalah sebuah proses yang saling berkaitan dan berlangsung terus-menerus dari mulai bangun tidur, sarapan, bekerja, pulang ke rumah menghabiskan waktu dengan anak-istri dan mengulang kembali di esok harinya dengan pola yang sama, maka layakkah itu disebut kehidupan?”. Beliau memandangi seantero ruangan seakan mencari mata kami yang mulai merasa ada sesuatu yang salah atau menelisik sejauhmana kami mengartikan kata-katanya. 

Seketika tergelitik hati untuk bertanya namun pikiran mendadak sontak tak mampu mengatakan sepatah katapun, seakan tersekat dengan perbagai keberatan-keberatan filosofis tentang garis metafisis dan mistis dalam rangkaian gerakan sholat yang syarat dengan nilai dan proses kontemplatif. Sang ustadz pun mendekat seakan menangkap keresahan yang terpancar dari wajah saya, beliau menyatakan; ” Yaa, Walady! (Wahai, Anakku!), shalat merupakan keteraturan dan terapi kebobrokan moral”. Ujarnya meyakinkan sekaligus menentramkan hati.

Shalat adalah sebuah grafik spritual komunitas muslim yang dengannya mereka memeriksa keimanannya setiap hari minimal lima kali. Pada waktu yang sama muslim dituntut untuk mensucikan dirinya dengan penuh kerendahan dan pengetahuan akan Islam yang disyariatkan melalui Muhammad Nabi orang muslim. Konsep ketaatan ini yang kemudian berpengaruh secara psikologis dalam pribadi komunitas muslim yang taat pada Allah dan Rasulnya sehingga mampu mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan khusyuk dan penuh harap.

Beberapa literatur tentang shalat memberikan isyarat bahwa gerakannya, cara-cara dan ketentuan bacaannya (QS. Al-Ankabuut 29;45) adalah hasil Isra Mi’raj sebagai perjalanan agung (Rihlatul Kubra) melampaui keterbatasan dan keberbatasan ruang dan waktu dalam kadar intelektual manusia saat ini, Al-Qur’an (QS. Al-Israa 17:1) menggambarkan tentang ’Israa’ yaitu perjalanan dalam waktu satu malam dari Mekkah (Masjidil haram yang didirikan oleh Ibrahim bapak tiga Agama dan Ismail leluhur Muhammad) ke Palestina (Masjidil Aqsha kiblat Pertama komunitas muslim), perjalanan tersebut terlampau modern di zamannya sehingga memunculkan berbagai spekulasi tentang proses perjalanan tersebut namun hanya orang yang benar-benar beriman seperti Abu Bakar yang mampu menyatakan kebenarannya. sementara ’Mi’raj’ adalah kekuasaan Allah untuk membalikkan dan menggerakkan ruang dan waktu sehingga Rasulullah dapat ’melintasi’ atau ’meloncat’ sekat-sekat ruang material.

Sebelum melakukan shalat seorang muslim diperintahkan untuk mensucikan diri dengan menggunakan tanah yang baik jika air tak mudah didapatkan atau dalam sebuah perjalanan atau sedang bepergian sebagai ’keringanan’ (rukhsah), bersuci (tayamum) seakan-akan memberi isyarat tentang kejadian manusia atau berwudlu menggunakan air (QS. Al-Maidah 5; 6) yang suci terhindar dari hadats, banyak ayat yang mengulas tentang makna air dalam Al-Qur’an diantaranya sebagai langkah awal menghidupkan peradaban (QS. Al-’Araaf 7;57) atau bahkan kebalikannya ’Sayl’ yang dapat membuat hati manusia kecewa karenanya (QS. Saba 16;16) bahkan air dapat menghancurkan seluruh peradaban di dunia (QS Al-Mukminun 23; 27) maka pada saat itu bahtera Allah saja yang mampu menyelamatkan.

Perintah tentang shalat (QS. Al-Baqarah 2;43) menggunakan kata ’Dirikanlah’(Aqimuu) seakan tidak menunjuk pada tradisi ritual yang selama ini banyak diperdebatkan dalam madzhab-madzhab pemikiran Islam dan pandangan ahli fiqh yang memang mempunyai banyak perbedaan pendapat mengenai tata cara shalat, akan tetapi lebih dari itu, Shalat harus mampu mengembangkan ketaatan dalam bentuk yang lebih kongkret sebagai ’atsar’ dan dapat diartikan juga dengan ’tegakkanlah’ atau perjuangkanlah Islam dan panji-panji Allah dimuka bumi ini, dengan mengerahkan segala sumber daya dan pengaruh ummat.

Muslim memperhatikan waktu shalat(QS. 17. Al Israa’17;78), bersuci dan menutup aurat (QS. Al-’Araaf 7; 31) menghadap kiblat (QS. Al-Baqarah 2;144) kemudian menyatakan dengan wajar lafadz ‘Allahu Akbar’ (Takbiratul Ihram) menandai i’tikad muslim untuk masuk dalam realitas spiritual yang hanya bisa dirasakan secara personal, tergantung kedekatannya dengan Allah dan Kiblat (ka’bah) adalah poros ideologi dan pandangan hidupnya, setiap saat gunung dan pohon-pohon berthawaf mengelilingi ka’bah, maka pada saat yang sama muslim menyadari ka’bah bukanlah Tuhannya tapi memenuhi perintah-Nya untuk mencium batu hitam (Hajar Aswad) adalah kewajiban yang dogmatis dan rasional karena ketaatan seorang muslim sebagai hamba Allah (’Abdullah). Sebuah ketaatan seperti halnya titah Allah kepada Malaikat untuk bersujud kepada Adam (QS. Al-Baqarah 2; 34).

Allah menyukai barisan yang kokoh seakan bunker yang sulit diruntuhkan (QS. Ash-Shaff 61; 4), shalatpun sering ditafsirkan sebagai sebuah ketahanan sosial yang solid dan teratur dan proses penyampaian informasi yang sangat ketat (QS Al-Hujurat 49;6) bahkan dalam sejarah, Nabi selalu menanyakan sahabat-sahabatnya jika tidak terlihat berjamaah hal ini yang mendasari jihad dimulai dengan merekatkan barisan dan memperkuat tatanan relasi sosial dengan infak dan berbuat baik (QS. Al-Baqarah 2; 215) disamping wajib militer (conscription), tergambar dalam shalat khauf (QS. An-Nisa 4; 102) yang disiplin dalam mengantisipasi serangan musuh Islam.

Mereka berbaris dan meletakkan tangannya tepat di hati— sebuah hadits meriwayatkan bahwa rasulullah meletakan tangannya tepat di uluhati, diantara perut dan dada—-yang dimaksudkan untuk menyatakan kerelaan dan kepasrahan dalam mengemban syariat, sepenuh hati menjalankannya dan keimanan dalam untuk berhukum dengan hudud Allah (QS. An-Nisa: 4; (65) karena itu melalui shalat komunitas muslim berinteraksi langsung dengan Tuhannya (Mahdlah) dan merasakan pancaran (Isyraaq) dalam hati seorang muslim yang mampu membuka tabir hatinya dan mengakui kemahaan Allah yang menggenggam hatinya (Dzikir) sehingga wajar jika shalat yang paling benar adalah shalatnya hati (wustha) karena hati berada di tengah dan tetapi hidup jika mengingat Khaliknya (QS. Al-Baqarah 2; 238) dengan demikian Muslim akan selalu ingat Allah dengan seluruh waktunya dalam waktu-waktu tertentu (QS. An-Nisa 4; 103) yang diinginkan Tuhan agar terdapat keteraturan dalam kehidupannya.

Selama dalam shalat seorang muslim menatap lekat ke arah tempat sujud seakan ia menyadari bahwa hidup hanya sebuah proses sederhana menuju kematian, ia memandang ke tempat sujud seakan mengerti bahwa shalatnya, hidupnya dan matinya adalah untuk Allah semata dan setiap nafasnya untuk membaca Al-Qur’an (QS. Al-Muzammil 73; 20). Kadang airmatanya jatuh dalam shalat karena hidupnya benar-benar diperuntukkan beribadah dengan penuh pengorbanan dan ketaatan yang menyeluruh (QS. Al-An’ am 6; 162).

Takbir kedua adalah ketika melakukan rukuk (QS. Al-Baqarah 2; 43) menandai fase ketundukan kedua dalam memaknai hidup. Jika berdiri muslim bersatu dengan rasionalitas dan tauhid yang egalitarian dan equality, pengetahuan dan wawasan intelektual (QS. At-Takaatsur 102; 5). Maka, dalam rukuk muslim sampai pada kedewasaan politik yang rabbaniyah, eklektis dan empiris (QS. At-Takaatsur 102;7). Rukuk berarti sebuah symbol tentang sistem pemerintahan, ketaatan pada pimpinan, pembangkangan sosial. Muslim akan mengikuti imam mereka selama masih berada di jalan Allah namun jika ia salah maka jamaah harus memperingatkannya tentang kesucian Allah dengan mengucapkan maha suci Allah (subhanallah) hanya Allah yang suci dari lupa dan hanya dengan kesuciannya itulah akan mampu menjadi terapis masyarakat dari kebobrokan moral (QS. An-Nisa 4;43) sehingga dapat hidup dalam kelapangan dan kesejahteraan.

Setelah rukuk muslim melakukan sujud masing-masing di tiap raka’at terdapat dua sujud. Sujud pertama diyakini sebagai ketundukan yang wajar kepada Allah yang maha tawadlu, Dia melarang sujud muslim seperti anjing atau binatang lainnya sedangkan sujud yang kedua sebuah pernyataan bahwa dengan sujudnya berjuang untuk mendelegimasi kekuasaan yang sekular sesuai dengan cara-cara Rasulullah sementara duduk diantara sujud merupakan equilibrium (Mizan) antara kehidupan dunia dan akhirat. Ketaatan kepada Allah dengan mengabdikan hidupnya dengan tegas dan menggantungkan harapannya hanya kepada-Nya(QS. Al- Fatihah 1; 5).

Tahiyyat adalah gerakan terakhir dalam shalat yang menunjukan kerendahan hamba di depan Allah dengan memohon ampun dan bertaubat sebelum muslim berpamitan untuk mengurusi kehidupan dunianya, penghormatan yang khidmat terhadap Rasulullah dan berharap di hari kiamat nanti dia memberi syafa’at kepadanya dan berdo’a dari semua malapetaka dunia, kemudian ditutup dengan ucapan salam ke kiri dan kanan (kehidupan dan kematian), karena muslim menyadari bahwa hidupnya bukan hanya di dunia namun juga di akhirat serta tanggung jawabnya di dunia hanyalah sebagai rahmat bagi semesta.

Melalui salam seorang muslim dituntut untuk menyebarkan perdamaian (Islam) ke seluruh penjuru dunia dengan santun dan berwibawa karena itu ketika Rasulullah mengirimkan surat ajakan masuk Islam kepada Hercules Gubernur Romawi (Hiraqla) yang menjamu utusan rasul dengan cara yang baik dan penerimaan yang menunjukan kebijaksanaannya maka Islam memulyakan mereka sebagai negara sahabat namun ketika Rasul mengajak Kisra di Persia utusan diplomatik Rasulullah dibunuh maka tidak ada yang pantas kecuali kemalangan yang menimpa kerajaan Persia karena Islam mengirimkan pasukan yang menginginkan kematian (Syahid).

Selain shalat wajib (fardlu) juga terdapat shalat sunnah bagi orang-orang yang ingin mempunyai nilai lebih di hadapan Allah. Shalat sunah mengikuti (Mutatabi’ain) shalat fardlu dengan jumlah rakaat dalam sehari sementara terdapat shalat malam yang mempunyai nilai tersendiri dan hitungan tersendiri bukan saja karena ayat yang diturunkan untuk shalat ini berdasar surat kedua yang turun (QS. Al-Muzammil 73;2) kepada Rasulullah tetapi Shalat dalam suatu hadits adalah ketika Allah menjamin doa hamba-Nya juga sebagai nikmat yang tak habis dan membuat muslim merasakan kedekatan secara personal kepada Allah. Keimanan yang akan mampu mengantarkan muslim untuk senantiasa merasakan kehadiran Allah dan merasa hatinya terjaga dari maksiat karena diperingatkan oleh sang Khalik dengan cara-Nya yang unik dalam setiap waktu dan keadaan.

Shalat jenazah dalam (fenomena kematian) adalah sebagai jembatan yang wajar bahkan titik awal pertemuannya dengan Rabbnya, disambut suka cita oleh seorang muslim dengan senyum yang tersungging ketika ajal menjemput, ia sekan terlelap laksana bayi untuk kembali kepada Allah sehingga sorang muslim yang baik dibantu saudara-saudaranya akan menyegerakan proses pemakaman, tanpa ratapan dan tangisan berlebihan ataupun pesta kematian tapi hanya dengan penghormatan terakhir layaknya penghormatan terakhir kepada seorang yang prajurit.

Shalat inilah yang mengantarkan muslim ke tingkatan kepasrahan dan keikhlasan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang hanya mengejar keridlaan-Nya, keutamaan mereka seperti mutiara dihadapan Allah yang maha indah, kekuatan mereka mampu menggetarkan musuh-musuh-Nya, kebijaksanaan mereka dalam memandang hidup dianugerahkan langsung oleh Dia Yang Maha Bijaksana, ilmunya tentang rahasia kehidupan disibghahkan oleh Dia yang Maha Mengetahui (QS. Al-Baqarah 2; 138). Maka, seseorang yang dianugerahi nikmat shalat akan berakhlak (Tahalluq bi Akhlaqillah), meneladani sifat-sifat-Nya dan ia akan diilhami dengan kedamaian yang menyejukan hati.

Wa Allahu a’a lam bishawwab.

Semoga bermanfaat.

Selendang Kenabian Yang Menghangatkan Semenanjung Jazirah

Hari yang dingin dan udara yang menggigit tulang di Hijaz, Jibril diutus untuk menubuatkan wahyu kepada Muhammad agar ia melakukan khotbah sebagaimana pernah dilakukan oleh nabi-nabi dalam sejarah biblikal. Muhammad tidak hanya mengancam bahwa Tuhan Yang Menciptakan (Al-Khaliq) murka melihat cara-cara mereka mengagungkan-Nya, merendahkan Dewa Hubal dan Banat Allah yang tidak bisa dipersamakan dengan Rabb Yang Menggenggam dahr namun ia juga mengagungkan Allah dengan lantang di zona-sakral ‘bukit Shafa’ yang dipenuhi arca-arca dan patung-patung sesembahan serta syair-syair untuk pemujaan”.

Konteks turunnya Surat Al-Mudatsir salah satu dari bagian surat-surat ‘permulaan’ mempunyai kemiripan dengan Surat Al-Muzammil yang diperkirakan turun sebelumnya kepada Muhammad yang saat itu masih dalam status-prophetis. Hal ini selain untuk memetakan ‘cara-cara ilahiyah’ dalam proses revelatif yang dapat kita bagi menjadi tiga cara diantaranya cara konvensional (bisikan Jibril dan Mimpi yang menjadi penanda), transmisi dan proses dialogis sekaligus menjadi diskursus di kalangan penafsir Al-Qur’an sehingga diperlukan sebuah hipotesis yang moderat. karena memang hampir tidak dapat dipastikan ayat mana yang lebih dulu turun berkenaan dengan dua surat tersebut namun terdapat celah dalam konteks substansi ayat-ayat tersebut untuk menganalisis turunnya kedua surat yaitu bahwa ayat-ayat dalam Surat Al-Muzammil sebetulnya menandai proses dakwah yang dilakukannya kepada orang-orang terdekat sedangkan Al-Mudatsir menandai dakwah secara terang-terangan nampaknya pendapat ini dapat dijadikan sandaran untuk sementara.

Pernyataan Nabi Muhammad saat ditanya tentang ihwal turunya surat ini secara retoris mengantarkan pemikiran kita pada satu kondisi faktual yang menandai pembagian skematis terhadap kronologis substansi surat-surat Al-Qur’an berdasarkan proses-transmisi wahyu tersebut, setidaknya dapat kita uraikan dalam beberapa bagian: (1). Permulaan Wahyu (Proses Adaptasi Teologis); (2). Pertengahan Wahyu (Proses Ideologisasi dan Transisi sebelum Hijrah); dan (3). Pasca-Hijrah (Proses aksiologis dan Supremasi). Dengan demikian, bentuk-bentuk proposisi yang disampaikan oleh hadits-hadits mengenai konteks temporal turunnya wahyu harus dipahami sebagai keadaan-keadaan yang mengisyaratkan kerangka sistematis dari tahap-tahap tersebut mulai inskriptualisasi hingga kodifikasi Al-Qur’an.

Proses-transmisi terjadi pasca-ketegangan Daar-Nadwah, penyiksaan dan embargo ekonomi yang dilakukan oleh Aristokrat-Quraisy terhadap Klan Bani Hasyim dan pengikut Muhammad. Aras temporal ini dapat kita sebut sebagai kausa ‘tak langsung’, pada kenyataannya terdapat kejadian yang dramatis dan mencengangkan bagi komunitas Arab-Paganis Makkah yaitu berkembang pesatnya ajaran yang disebut-sebut mengikuti sekte Ibrahim dan mulai menyaingi populasi paganis-Makkah. Kondisi ini membuat popularitas Muhammad melonjak dan posisi tawar pengikut Muhammad dapat diperhitungkan secara politik dan keberadaannya akan membuat Aristorat-Quraisy berpikir seribu kali untuk menghalang-halangi Misi-Prophetis yang dilakukannya karena orang-orang populer dan disegani di Makkah mulai bersimpati terhadap substansi dan keindahan Al-Qur’an.

Sekilas nampak bahwa Al-Qur’an adalah seperti maha karya sastra yang unik dan lebih dari itu Al-Qur’an adalah kalam ilahiyah yang memang disampaikan secara verbal oleh Rasulullah. Surat ini sarat dengan struktur-verbal, gema-fonetis yang merdu dan memiliki varian-varian yang belum terkodekan sehingga interval-bunyi (frekuensi nada dan semitone; ritme dan rentak metronimis, crochet, nada panjang, jeda, glissando, ornamen-melodis, rubato dan panjang jeda) juga dipertimbangkan dalam upaya interpretasi karena struktur-verbal tersebut berfungsi sebagai ranah variasi-ekpresif yang menyampaikan ‘pesan psikologis’ juga mencakup ranah substansial terlihat dalam ayat-ayat: .

Ayat-ayat di atas menandai bahwa kita akan membaca berbagai symbol-simbol dan tanda, frekuensi nada yang teratur sesuai longitudinal, aksensitas, interval-bunyi untuk menunjukkan ekpresi-ekpresi psikologis dan mencari celah untuk memahami berbagai hal seakan sebuah kristal yang tetap, sarat makna dan titik reproduksi tanda, mengandung ulasan sejarah dan dogmayang menyinari dengan pendarnya setiap sudut hati atau sebagai suatu fenomena-ikonis, indeks dan kode yang dapat berlangsung sebagai suatu keniscayaan masa lalu atau bahkan objek yang saling berkaitan secara paralel dengan realitas social saat ini dan bisa mengubah wujudnya sebagai sebuah paradigma yang memperbaiki dirinya secara terus-menerus dan berkelanjutan.

Proposisi-resiprokal yang bersifat instruktif dan personal dalam ayat-ayat di atas yang digunakan dan dipilih untuk membangun struktur verbal Al-Qur’an, pilihan-pilihan kombinasi di sepanjang Surat untuk mewakili ekspresi-ekspresi psikologis dan teologis sebagai teks karena posisinya sebagai wahyu yang dibahasakan Nabi Muhammad. Realitas yang sama-sekali berbeda tipologi kultural dan semantik yang kita kenal. Pada prosesnya sebagai sastra-verbal yang berkaitan secara sintaksis dengan fonologi. Proposisi resiprokal tersebut menandai proses perubahan ekspresi yang berlangsung seperti jarum jam dan teratur. proposisi-resiprokal ini pun berfungsi untuk menjelaskan perlawanan terhadap hegemoni budaya di zamannya dan akan berlangsung terus dalam setiap masa disamping wahana tersebut akan dapat dimaknai secara diakronik jika dihubungkan dengan tanda yang berputar sebagai determinan yang mengelilingi teks seperti: aspek mistisisme, Relasi historis, kondisi psikologis, locus, tempus, kausa ‘tak langsung’, proses dramatis, fenomena-fenomena dan ‘pesan’ simbol-simbol yang dipilih Al-Qur’an dalam bahasan ini.

Proses transmisi wahyu yang berlangsung (ditandai dengan seruan jarak jauh) mempunyai pola-pola spiritual, Hubungan historis, keadaan-keadaan yang tak dapat dipahami secara rasional dan berhubungan erat dengan kondisi reseptif nabi Muhammad karena itu ulasan sejarah akan dapat membantu kita sebagai konteks sehingga dapat kita lihat bahwa Jibril diutus untuk menubuatkan wahyu kepada Muhammad agar ia melakukan khotbah sebagaimana pernah dilakukan oleh nabi-nabi dalam sejarah biblikal seakan melihat dengan hati kita saat Rasulullah mengancam bahwa Tuhan yang Menciptakan (Al-Khaliq) murka melihat cara-cara mereka mengagungkan-Nya dan merendahkan Dewa Hubal dan Banat Allah yang tidak bisa dipersamakan dengan Rabb Yang Menggenggam dahr namun ia juga mengagungkan Allah dengan lantang di zona-sakral ‘bukit Shafa’ yang dipenuhi arca-arca dan patung-patung sesembahan serta syair-syair untuk pemujaan tak heran jika mereka begitu murka dengan Rasulullah, namun kondisi cuaca yang tak bersahabat meredam emosi yang bergejolak dalam dada mereka, hati mereka tak kuasa membantah berbagai argumentasi dalam setiap ayat-ayat yang dibacakan Allah melalui nabi-Nya mereka terkesima sepanjang orasi Muhammad yang mengguncang paradigma.

Realitas Transmisi revelasi dengan menggunakan huruf redundansi”Yaa Ayyuha Al-Mudatsir” (Hai, orang yang berselimut! (QS. Al-Mudatsir (74):1), akan banyak kita temui dalam ayat-ayat lainnya dengan konteks yang berbeda tergantung resapan redaksional dan struktur verbal yang berhubungan secara sintaksis ataupun dengan makna ‘di dalamnya’. Huruf redundansi sebagai sebuah kata yang siap pakai dalam konstruk budaya seakan sebuah ‘pengingatan’ yang menuntut kesigapan reseptif, paradigma, fisik dan psikologis. Ayat ini pun berfungsi sebagai sebuah realitas yang etis dan estetis dalam bahasa yang kita kenal sehari-hari seakan menghentakan hati dengan cara ‘menyapa dengan sopan’ agar mendengarkan, ‘mencamkan’, ‘memperhatikan’ dan mengaktualisasikan yang diperintahkan oleh Tuhan Yang Maha Tinggi kepada pribadi Nabi Muhammad melalui utusannya Jibril. Karena itu subjek yang terlibat secara persuasif adalah Jibril dan Muhammad mengakibatkan kode-kode substansial yang terkandung di dalamnya memiliki corak yang semiologis dan mampu dipahami secara instuisi, mistis dan spiritual.

Kita akan mengkaji kata Al-Mudatsir sebagai idiom kultural. menurut Umberto Eco kata Al-Mudatsir dapat diekplorasi sebagai fenomena semiotic dan berfungsi untuk dapat memahami kebudayaan secara menyeluruh karena dilihat dari sudut pandang semiotika; benda-benda, prilaku-prilaku dan hubungan-hubungan produksi serta nilai-nilai bisa berfungsi secara social disebabkan karena ia mematuhi hukum-hukum semiotic hal ini tak lain berarti setiap aspek kebudayaan menjadi sebuah unit semantic. Pada tahap pertama analisis morfologis terhadap kata Al-Mudatsir yang dipilih sebagai titik mereproduksi tanda, jika kita menggunakan teori semantika struktural Umberto Eco, idiom Al-Mudatsir dapat dikaji dengan berbagai sudut pandang (a). Konteks fisik (Ditsar; kain yang mempunyai berat tertentu, terbuat dari benang dan bahan-bahan lainnya dalam hal ini senada dengan penjelasan Quraish Shihab); (b). Konteks mekanis (diletakan diatas kain yang dimaksudkan untuk menghangatkan tubuh dari kedinginan jika terkena api akan terbakar dan air dapat membasahinya sehingga fungsi mekanis tersebut dapat hilang); (c). Konteks ekonomis (benda tersebut mempunyai nilai tukar dan harga); (d). Konteks Sosial (benda tersebut menandai status social tertentu); (e). Konteks semantic (benda tersebut sebagai idiom kutural yang tak dapat digantikan). Maka, untuk memahami dan menemukan konteks sinkronik dalam ayat tersebut, semiotika saja tidak cukup dalam proses intrepretatif terhadap ayat ini karena proses ini memerlukan teori yang bercita rasa sastra dan sosio-historis karena dimungkinkan pemaknaan sosiologis, simbolis dan metafora.

Ihwal kondisi psikologis Nabi Muhammad saat menyatakan ke khalayak dapat kita kaji melalui analisis sejarah dan sudut pandang fenomenologis dengan mempertautkan sejarah, intensitas dan signifikansi komunikasi dalam ayat-ayat di atas. maka, saat membaca “Qum fa andzir” (Bangkitlah, kemudian berilah peringatan dengan penuh ancaman! (QS. Al-Mudatsir (74):2), secara dramatis pemikiran kita diberi celah untuk menyaksikan Rasulullah naik ke mimbar Shafa melewati arca-arca yang bernama ‘Rujza’ kemudian lantang mengancam Aristokrat-Quraisy yang despotis dan Paganis-Mekkah, seketika kita mampu membayangkan pakaian sederhana yang dikenakannya dalam ukuran orang berada di Mekkah dan menggunakan ditsar untuk melindungi dirinya dari cuaca dingin pada saat yang sama kita pun merasakan udara yang dingin tersebut kini memanas dengan luapan emosi dalam setiap tarikan nafasnya, tegangnya urat di lehernya dan keringat yang membeku mulai membasahi sorbannya saat ia memecah kesunyian di tengah Dewa Ba’al dan Banat Allah yang tak mampu menutupi telinga mereka.

Jika kenyataan-kenyataan yang dimaksudkan al-qur’an adalah fakta historis yang mencakup pribadi Nabi Muhammad berwujud kekhawatiran dirinya pada keluarganya, kecemasan terhadap usahanya dan konsekuensi-konsekuensi yang akan diterima pengikutnya serta masalah kegelisahannya jika kaumnya tidak memahami bahkan mungkin salah persepsi terhadap apa yang ia sampaikan. Maka, ayat ini adalah resonansi psikologis agar ia meninggalkan pikiran-pikiran picik yang konservatif dan proses reseptif yang akan berlangsung terus selama ia hidup sebagai durasi yang menjanjikan status dan atribut-atribut metafisis serta prediksi-prediksi konfrontasi yang mungkin ia hadapi dalam proses adaptasi teologis terhadap bangsa Arab (simbol komunitas yang merefresentasikan konstruk dialogis al-qur’an dengan peradaban-peradan dalam sejarah dari masa ke masa). Maka, asumsi atribusi status dari status-prophetic (status kenabian) mengalami perubahan atau bertambah dengan status-apostolik (status kerasulan) jika kita menggunakan Istilah dalam tradisi biblical. Maka asumsi tersebut menjadi wajar adanya karena mengekplanasikan symbol-simbol yang dipostulatkan dalam al-qur’an.yang tak tergantikan secara semantis dan menjadi lumrah jika pada ayat-ayat Al-Muzammil diekplanasikan ‘membuka Hijab paradigma’ ayat ini menghentakannya untuk masuk ke sebuah cakrawala yang terekskalasi ritmis, teratur dan simultan seperti proses recitation yang diinginkan Al-Qur’an karena itu fenomena sosial sebagai ‘gerak’ akan bersinergi dengan ekspresi-ekspresi psikologis yang dimplikasikan ayat-ayat ini.

Bentuk-bentuk adaptasi teologis ditampakkan dengan ayat “Wa Rabbuka fa kabbir” (Hanya ‘Tuhanmu’ agungkanlah (QS. Al-Mudatsir (74):3) sebagai penanda situasi dialogis di bukit shafa yang sakral bagi Paganis- Makkah, komunikasi antara Tuhan dan Muhammad untuk menyeru kaumnya dalam jaminan dan perlindungan-Nya. Dataran tinggi tersebut dipercaya sebagai Mezbah-liturgis dan pengobanan dalam ritual-ritual terhadap Dewa Ba’al dan Banat Allah, terutama upacara untuk menyembah dan membacakan Syair untuk memuji Lata (Dewi Hujan dan Kesuburan). Mirip mitologi Imam Mahdi dalam kepercayaan kaum Syiah dan turunnya Messias di bukit Zion. Maka bukit Shafa pun berfungsi teologis bagi Paganis-Arab dan menjadi penanda mitologis sebagai tempat membuminya Hubal dari alam arwah dan berbicara melalui orang yang dipilihnya. Kita yakin setiap masyarakat tradisional mempunyai tapal sejarah yang berhubungan dengan mitologi klasik semacam ini atau dalam bahasa yang kita kenal disebut dengan rekayasa imajinasi dalam pantulan budaya yang mendistorsi (takhayul). Istilah ini pun mengalami pasang surut namun tetap dilanggengkan untuk tujuan-tujuan mistis dan kepentingan budayanya.

Proses dialogis tersebut yang berlangsung di bukit Shafa sebagai pilihan sejarah dalam ‘pengetahuan’ dan ‘pikiran-pikiran’ nampaknya terlihat sebagai rencana ilahiyah yang sudah diperhitungkan sebelumnya atau sebagai lintasan sejarah semata yang bersifat temporer. Bagi kaum mistis hal itu merupakan sebuah ‘jembatan Ruhani’untuk menerima ekplanasi spiritual, bagi para mufasir hal tersebut menjadi qarinah, bagi para filosof bukit shafa akan dimaknai menjadi simbol falsafati dan bagi kaum dogmatis sebagai hikmah sedangkan bagi semiotikawan akan menjadi penanda. Sementara ini, kita tidak bisa melepaskan ide-ide mereka karena fakta historis tersebut akan dapat berfungsi sebagai pesan-pesan ikonis. Sehingga kita pun akan bergumul dengan ide-ide yang terpendar dalam lingkaran ‘prisma-interpretasi’ di atas dengan begitu dapat berproses secara dialektis karena itu wajar jika terlintas dalam pikiran kita saat ini bahwa dataran tinggi itu menjadi titik al-qur’an membahasakan diri dalam konstruk signifikansi dan intensitas yang menegasi dan mendekonstruksi paganisme.

Disamping itu bukit shafa sebagai sesuatu yang sacral dalam pandangan Paganis menjadi termentahkan dengan ‘pengagungan’ kepada Allah Yang Maha Suci.karena takbir di aras longitudinal menjadi konsep persiapan ritual shalat kendatipun proses pewahyuan tentang shalat masih dalam pengetahuan abstrak-Nya yang belum ritualisasikan. Maka pertautan sederhana dari peralihan situasional ini hanya menjadi kerangka informasi dan komunikasi sementara Ekspresi-deklaratif dalam ayat ini sebagai luapan psikologis, memunculkan asumsi bahwa saat Rasulullah melakukan Khutbah di bukit Shafa menunjukan keyakinan terhadap Tuhannya yang bukan hanya akan menjaga dirinya dan melindungi pengikutnya selama mulut mereka menggumamkan takbir.

Pada proses selanjutnya sinyal-sinyal yang nampak dalam symbol “Wa Tsiyabaka fa Thahhir”(dan Pakaian-pakaianmu sucikanlah (QS.Al-Mudatsir (74):4). abstraksi-abstraksi tradisi yang disimbolisasikan dengan ‘pakaian-pakaian’ berbentuk kata plural seakan menterjemahkan alur tematik dalam tipologi liturgis penyembahan dan sakramen paganis dan polities-Arab di zamannya jika kita maknai sebagai symbol melahirkan penafsiran-penafsiran longitudinal seakan mengisyaratkan pengingkaran pada nilai-nilai aksiomatis oleh Paganis Arab. Maka dalam keadaan yang berkonstelasi ini mengandaikan suatu bentuk ketegangan social. Secara dramatis dapat dikatakan bahwa realitas bahwa Allah tidak hanya membimbing ia untuk mengatakan kepada komunitasnya agar menghentikan perbuatan-perbuatan najis mereka, kehidupan yang bergelimang kenistaan dan struktur teologis yang menyeret mereka dalam kezaliman yang mengakar serta kesalahan-kesalahan aksiomatis terhadap bayi-bayi perempuan yang dilahirkan dari anggota kabilah mereka.

Pada tahap selanjutnya proses-transmisi wahyu ini, masih berbicara tentang dorongan psikologis dan terfokus pada pribadi Rasulullah namun pada sisi lain membimbingnya untuk mendiagnosa patologi masyarakatnya yang tengah kronis namun tidak berhenti di sana Allah juga mengajarkan kepadanya agar Muhammad meninggalkan keinginannya untuk berkuasa di Mekkah sebagai pimpinan politik bergabung dengan para sheikh (clan elders) yang disimbolkan sebagai berhala dalam konteks sosial yang menguasai distribusi air, kebutuhan dan perbuatan najis lainnya serta pemrakarsa perbudakan. “wa Rujza fa uhjur”(dan perbuatan dosa tinggalkanlah (QS. Al-Mudatsir (74):5). Karena jika ia mengubah Masyarakatnya dengan cara menginfiltrasi hal itu menjadi tanda melegitimasi perbuatn najis mereka bahkan menjadi bagian dari mereka.

Interval-longitudinal dalam ayat tersebut terletak pada ‘Rujza’, penekanan bunyi tersebut menandai ekspresi dan memindai impuls-impuls psikologis yang penuh kegeraman seperti nampak di dalam intonasi dan frekuensi nada yang ditimbulkan dalam ayat ini. Berbeda dengan ayat (10) dalam surat al-Muzammil tekanan bunyi terdapat di ujung ayat.”wa Ishbir ‘ala maa yaquluna wahjurhum hajran jamilaa”(Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang ‘menawan’(QS. Al-Muzammil (73):10). Pada Surat Al-Mudatsir kata ‘uhjur’ dibiarkan tidak ‘sempurna’, sebagai penanda ketegangan dan konstelasi yang mengitarinya karena sifat penolakan dari Rujza (simbol politik) seperti prasasti yang dilanggengkan dalam pesan-pesan semiotic terhadap kritik ideologi.

Proyeksi-proyeksi reflektif dalam ayat tersebut menampakan kondisi psikologis yang Rasulullah rasakan saat ia terguncang oleh tawaran-tawaran persona dunia yang hampir mempengaruhinya sehingga pada ayat selanjutnya, ia pun diperintahkan mengabaikan kepentingan dirinya untuk menguasai sektor-sektor strategis di semenanjung Hijaz. Nampaknya bukan cara-cara yang ekonomis ia melakukan dakwah; “Wa laa tamnun Tastaktsir”(Janganlah kamu memberi untuk mengharapkan lebih banyak (QS. Al-Mudatsir (74): 6). Karena yang dikehendaki Allah adalah sebuah militansi yang terpatri dalam diri pengikutnya yang akan berguna dalam proses-proses panjang yang menantinya. Inilah resapan ruhani yang mendidik hatinya untuk tidak lemah dengan status-apostolik yang ia kenakan dan tidak berharap Allah membalas jasanya seakan bawahan dan atasannya.

Ekspresi ketegasan dan tanpa kompromistis dalam ayat-ayat sepanjang surat ini nampak begitu nyata dan memukau tak terkecuali di ujung bait marka pertama surat ini “Wa li Rabbika fa ishbir”(dan untuk Tuhanmu bersabarlah (QS.Al-Mudatsir (74):7). Mengungkapkan fungsinya sebagai kode-kode sejarah berdaya eksplanatif baik secara filologis atau pun semiotis karena itu wajar jika pada saat yang sama kita mengandaikan bahwa Allah menempa hatinya agar tidak mudah mengeluh di jalan yang ia tempuh dan mempersiapkannya untuk berjuang sampai keringatnya kering dan darahnya menghitam dibakar teriknya gurun saat perang mulai ditumpahkan oleh Aristokrat-Quraisy dan Paganis-Makkah. Namun, pada sisi lain kondisi ini pun bukan tanpa pengawasan ketat dari-Nya karena jika ia sabar maka Allah akan menjaminnya, mengendalikan situasi dan mengirimkan malaikat-malaikat-Nya. Wa Allahu ‘alam.

Bisikan Jibril; Komunikasi Transenden dan Akhir Kenabian

“Muhammad tak dapat mengelak dari makhluk bersayap yang tiba-tiba berada di hadapannya, ia hanya tertegun saat dadanya terasa sesak dan pikirannya merespon kata-kata yang tak ia pahami menyelinap di kepalanya ”bacalah (iqra), kondisi reseptifnya berubah-ubah seperti grafik yang terus bergerak, membuat lidahnya kelu . Pikirannya berkata bahwa ia bukan Qari yang majnun, jiwanya tertekan hingga hampir hilang kesadaran, kemudian dilepaskan, untuk kedua kalinya makhluk itu memaksa dengan kalimat yang sama membuat membran di otaknya menginstruksikan untuk mengeja kalimat itu lagi. Kali ini Pikirannya dikacaukan oleh mitos-mitos yang berkembang di komunitasnya, sehingga ia tak kuasa untuk menggerakkan bibirnya, ketiga kalinya makhluk itu menyuruhnya mengucapkan sesuatu, namun tetap saja ia tak mampu menirukan bisikan halus itu yang mulai mengalir ke dalam hatinya, bahkan ia tak menyadari kondisinya tengah tertidur atau tengah terjaga. Namun hatinya telah menerima syair yang indah bahkan sajak yang paling populer di zamannya tak mampu menandinginya”

 Ayat-ayat Pengantar dan Akhir Kenabian.

Menurut Geneologi Al-qur’an, ada dua tipologi kelompok masyarakat Arab pra- Islam yang menguasai Jazirah Arab. Pertama, penduduk keturunan Ibrahim dan Hajar dari garis keturunan Ismail, dikenal dengan bangsa Nabatea yang menghuni daerah Waad (QS.14:37), yang berarti daerah lembah yang menampung banyak air, daerah ini terletak di wilayah utara, umumnya mereka telah hidup menetap dengan cara bertani dan berdagang; kedua, penduduk daerah perbukitan terjal dan gurun, Ibnu Katsir menyebutnya suku Jurhum dan suku-suku Aram yang diistilahkan al-qur’an dengan Shahra (Qs. 89:9)’, daerah ini terletak di daerah bagian tengah hingga selatan, sebagian dari mereka dikenal dengan suku Baduwi yang umumnya mempunyai gaya hidup berpindah-pindah.

Letak jazirah yang strategis, yaitu sebelah barat berbatasan dengan laut merah, sebelah timur dibatasi teluk Persia, sebelah selatan dibatasi lautan India, dan sebelah utara dibatasi Suriah dan Mesopotamia, menjadikannya trade-route yang telah lama diramaikan dengan perdagangan, hingga saat ini kawasan tersebut dikenal dengan sebutan Hijaz. Hijaz 610 M, dikuasai Salah satu suku (Qabilah) Quraisy yang menguasai sebagian besar sektor ekonomi, mereka telah menetapkan hukum perbudakan, sistem pasar dan konsep agama yang umumnya dihasilkan melalui consensus suku di jazirah (ijma’). Mereka telah lama hidup berdampingan dan setiap masalah yang ada umumnya diselesaikan melalui cara-cara adat dan rekonsiliasi di bait nadwah. Lokasi Bait nadwah sendiri terletak di kawasan ka’bah yang menjadi simbol religiusitas dengan adanya dewa-dewa pra-Islam.

Menurut Al-Syahrastani, terdapat 360 berhala di sekitar Ka’bah, yang paling terkenal adalah Hubal (Dewa Bulan) yang dibawa oleh Amr bin Lahi dari Belka di Syiria ke Arabia dengan tujuan agar bisa mendatangkan hujan. Hubal dianggap wasilah kepada Allah dan Banat berupa dewi-dewi Latta (dewi Kesuburan) mempunyai kuil besar di Hijaz, Uzza (yang Perkasa) memiliki altar suci di thaif dan nakhlah, dan Manat (Penentu Nasib dan keberuntungan) di sembah di Qudlaidh. Penduduk Hijaz menyembah dewi Latta yang mempunyai kedudukan sebagai Dewi Semit garis ibu, dewi kesuburan, dan dewi langit terutama di kawasan Semit barat. Penduduk dari seluruh jazirah tidak hanya untuk berdagang ke Mekkah namun juga untuk menyembah dewa Hubal dan replika dewi-dewi tersebut, karena penyembahan Banat Allah bersifat teritorial. Sehingga ketika mereka melewati kawasan tertentu yang penduduknya menyembah Uzza misalnya mereka diperintahkan untuk berkorban atau memberikan penghormatan. Hal itu berarti selain memiliki konsep keyakinan Pagan mereka juga cenderung polytheist.

Sementara itu, bukit Shafa menjadi simbol pluralisme di zamannya, dengan adanya berbagai berhala lainnya yang berasal dari segala penjuru jazirah, seperti Suwa’, Wadd, Ya’uq, Allat, Dzu al-Shara, al-Qais, dan masih banyak lagi. karena itu Hijaz juga dikenal dengan garis persinggungan agama-agama dan pusat budaya jazirah Arab.

Bisikan Namus (Jibril), Pernyataan Seorang Nestorian.

Muhammad bin Abdullah, pada awalnya hanyalah salah seorang pedagang yang sukses di Hijaz, beristrikan janda bernama Khadijah diselimuti kegelisahan selama beberapa tahun belakangan. Kegundahan yang sama pernah terjadi pada nabi-nabi Ibrani dalam sejarah Biblikal, keresahan yang sama pernah menimpa Ibrahim di Fa’dam Aram Babylonia dan kegundahan yang sama dengan Musa saat ia menjadi putra fir’aun di Mesir. Selama hampir lima tahun ia sering berkontemplasi mengikuti sekte Ibrahim atau warisan monoteisme diteruskan oleh tradisi Arab setempat yang disebut kaum “Hanif” yang minoritas di kawasan Syiria yang hampir dilupakan komunitasnya, — Istilah Arab Hanif sendiri, berasal dari bahasa Suryani (hanfe) — Hingga pada suatu hari yang tak mungkin ia lupakan, ia melihat penampakan yang berbeda dengan Mitologi Arab yang berkembang.

Muhammad tak dapat mengelak dari makhluk bersayap yang tiba-tiba berada di hadapannya, ia hanya tertegun saat dadanya terasa sesak dan pikirannya merespon kata-kata yang tak ia pahami menyelinap di kepalanya ”bacalah (iqra), kondisi reseptifnya berubah-ubah seperti grafik yang terus bergerak, membuat lidahnya kelu. Pikirannya berkata bahwa ia bukan Qari yang majnun, jiwanya tertekan hingga hampir hilang kesadaran, kemudian dilepaskan, untuk kedua kalinya makhluk itu memaksa dengan kalimat yang sama membuat membran di otaknya menginstruksikan untuk mengeja kalimat itu lagi. Kali ini Pikirannya dikacaukan oleh mitos-mitos yang berkembang di komunitasnya, sehingga ia tak kuasa untuk menggerakkan bibirnya, ketiga kalinya makhluk itu menyuruhnya mengucapkan sesuatu, namun tetap saja ia tak mampu menirukan bisikan halus itu yang mulai mengalir ke dalam hatinya, bahkan ia tak menyadari kondisinya tengah tertidur atau tengah terjaga. Namun hatinya telah menerima syair yang indah bahkan sajak yang paling populer di zamannya tak mampu menandinginya.

Setelah mendengar pernyataan Waraqah bin Naufal bahwa makhluk yang memaksanya membaca itu adalah Namus (Jibril), salah satu Malaikat yang pernah diutus kepada Musa, saat itu Muhammad belum menyadari apa yang akan ia hadapi, seperti ia pun belum mengira bahwa sekarang ia tidak lagi berbicara atas nama qabilahnya, bahkan ia pun tak mengetahui syair apa yang ia terima. Namun ia mulai merasakan bahwa hari-hari yang akan ia hadapi tidak akan pernah sama dengan kemarin dan Ia mencoba melewati hari itu dengan cara yang wajar, akan tetapi intuisinya menggerakannya untuk mencari informasi tentang 5 bait syair indah yang tertanam di relung hatinya dan mulai mengaguminya setiap saat ia mengingat bait-baitnya.

Para Ulama berpendapat bahwa peristiwa Tanzil (Revelation), 5 ayat pengantar ini, secara intertekstual dinarasikan oleh Surat Al-Qadr, yang menyebutkan bahwa peristiwa tersebut merupakan sesuatu yang gemilang dan mulia sepanjang sejarah peradaban manusia, melalui Al-qur’an kita dapat menemukan fenomena dan cara-cara ilahiyah (Minhaj Ilahiyah) bahwa pada awalnya Al-qur’an merupakan Korpus yang transenden, ditempatkan di Lauh Mahfudz. Melalui Jibril Khususnya 5 ayat ini diturunkan melalui proses dialogis dan disematkan ke dalam hati Rasulullah. sejumlah ayat dalam Al-qur’an menyatakan bahwa Al-qur’an diturunkan melalui cara-cara bertahap dan kondisional, untuk itu marilah kita diskusikan ayat-ayat berikut ini:

Bacalah! Dengan Nama Tuhanmu yang telah menciptakan.

Al-‘Alaq (Segumpal darah), merupakan kategori Surat permulaan yang mencoba merestorasi ajaran monotheisme dan menjelaskan serta merekonsiliasi perseteruan Yudeo-Kristen dan agama-agama lainnya, selama berabad-abad terhadap ajaran masing-masing. Pada waktu, Rasulullah menerima wahyu, mulanya hanya berjumlah (5) ayat, maka wajar jika Surat Al-Alaq disebut wahyu permulaan, dilihat dari pilihan katanya (diksi), Ayat ini diturunkan untuk mempermasalahkan konsepsi materialis Arab pra-Islam (Dahr), pemurnian ritual kepada Tuhan, sejarah peradaban manusia, proses biologis kejadian manusia dan salah satu sifat Ketuhanan serta cara-cara untuk mengenalnya. Semangat dan pesan dalam ayat (1) ini, yang berfungsi untuk mendekonstruksi asumsi-asumsi komunitas Jazirah pra-Islam bahwa kehidupan adalah proses sederhana yang bergantung sepenuhnya pada alam, Mereka tidak mempercayai kehidupan akhirat akan tetapi mereka lebih mempercayai dahr (nasib, takdir, waktu) yang mereka sebut sebagai satu-satunya proposisi kehidupan. Berdasarkan hal diatas, dapatlah kita uraikan bahwa Rabb tidak hanya mendidik paradigma agar mampu memahami tapi juga Dia telah menentukan hukum-hukum alam berdasarkan ketentuan yang proporsional dan senantiasa memelihara semesta dengan proses yang rasional dengan kehendak-Nya.

Secara semantik “Iqra’ selain ‘membaca’ juga berarti merangkai, seperti dalam kalimat “rangkailah pelepah kurma yang terpisah itu”, tidak ada hambatan untuk mengumpulkan objek-objek terlebih dahulu, menelitinya satu persatu atau dengan cara yang terpikirkan begitu saja, menyusunnya sehelai demi sehelai dan menghubungkannya dengan objek-objek lainnya, baik dengan satu jalan atau pun banyak cara. Perubahan makna merangkai menjadi membaca adalah karena sifatnya yang menghimpun keterpisahan objek-objek yang bias agar terlihat dan dapat dimaknai. Selain itu lekstur ‘Iqra’ juga dapat diartikan dengan mensintesiskan, mengintegrasikan dan menghimpun serta melakukan interkoneksi dengan realitas, intertekstualisasi dan resonansi pengalaman-pengalaman subjektif serta mengkontekstualisasikan wahyu (Ta’wil). Karena itu, ayat (1) di fase pertama kenabian ini dapat dihubungkan dengan Surat Al-Jatsiyah (2-6) sebagai sesuatu yang ekstra lingual dan diakronik. Proses membaca selanjutnya, adalah melakukan interkoneksi terhadap realitas sejarah agama-agama baik secara diakronik atau pun sinkronik, Sejarah yang bersifat sinkronik adalah perubahan pada saat tertentu, sehingga sejarah dilihat sebagai sebuah penggalan peristiwa (untuk melihat hal ini memerlukan Asbabun Nuzul) dan sejarah yang besifat diakronik adalah melihat perubahan sebagai peristiwa yang saling berkesinambungan, yang terjadi dalam jangka waktu panjang 

Karena itu, saat kita mulai membaca ayat (1) ini, merangkainya dan menghubungkannya dengan pengalaman-pengalaman kita, mencari tautan dengan realitas yang kita hadapi, pada saat yang sama kita meresapi setiap peristiwa sejarah seperti saat gugusan ayat ini menyentuh pribadi Nabi dan secara psikologis membangkitkan kesan yang berbeda bagi kita saat ini. Membaca (qara’a) bukanlah melantunkan (taa-la), karena membaca berarti menuntut keterbukaan hati dan pikiran untuk menerima pengetahuan yang baru, kita pun harus rela menanggalkan atribut-atribut keilmuan yang telah usang seperti mengganti air di dalam sebuah gelas, mencucinya dan digantikan dengan air yang baru. Melalui Cara-cara mengintegrasikan, meresonansikan teks dengan ide dan realitas yang ada hingga dapat dipahami baik secara rasional dan intuitif, mistis dan metafisis, falsafati dan dogmatis.

Dalam konteks Sejarah agama-agama ayat, Bacalah! Dengan Nama Tuhanmu yang telah menciptakan (QS.96:1), menjelaskan secara sinkronik konsepsi kenabian Muhammad lintas Yudeo-Kristen yang saling mengklaim dirinya sebagai satu-satunya otoritas kebenaran. Islam datang sebetulnya bukan hal baru melainkan telah termaktub dala kitab-kitab sebelumnya untuk mengakhiri perseteruan mereka. Menurut Al-qur’an, perseturuan mereka dipicu karena perubahan prinsipil dalam konsep-konsep teologis dan eskatologis sehingga mengubah ajaran-ajaran yang semula murni dari Nabi-nabi Patriarch dan Biblikal. Ibarat, jalan air dari pegunungan yang sejuk namun di tengah aliran air tersebut dikotori pengembara sehingga air yang sampai ke lembah sudah tidak murni akan tetapi telah terpengaruh unsur-unsur yang menyempal dari asalnya. Agama-agama transcendental selain agama Biblikal dan Patriarch pun telah mengalami perubahan dan berdialektika dengan sejarahnya serta menyamarkan teks-teks tentang kenabian Muhammad, sementara Nabi-Nabi yang diutus pada kenyataannya di masa lalu hanya untuk komunitas tertentu.

Dalam hal ini, Islam adalah asal sekaligus muara agama-agama. Karena dunia memerlukan satu jalan, ketentraman dalam satu bahtera dan tatanan dunia baru yang dibangun dengan menyebut Nama Rabb sebagai langkah pertamanya dan diakhiri dengan memuji kepada-Nya. Bukan atas Nama yang lain (Qs. 12:40) dan isme-isme yang absurd (Qs. 53:23). Dilihat dari peletakan (diksi) kata “Rabb” (Pemelihara semesta) yang dipilih, bukan kata ilah (Tuhan) yang lebih bernuansa ikonoklastik untuk mengkomunikasikan eksistensi-Nya pertama kali, terkait dengan cara pandang hidup komunitas Jazirah waktu itu, terutama Hijaz dan kita saat ini, kata Rabb disebutkan juga dalam bentuk plural “arbab” (Qs.9:31). Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah kata “Rabb” merupakan tradisi verbal yang sudah dikenal dalam sejarah (eksoterik), atau realitas yang sama sekali transenden (esoterik). Maka, selain memaknai Rabb tersebut selain mendekatinya dalam konteks linguistik perlu juga menghubungkannya dengan kata ‘khalaqa”, “Yang Menciptakan”, agar diperoleh realitas semiotis yang utuh dalam ayat tersebut dan mencari padananan lain bentuk verb (khalaqa) seperti ayat 1 diatas, yaitu pada (Qs. 6:8), melalui kata “yakhluqu” senantiasa menciptakan sesuatu yang tidak kamu mengetahuinya.

Dalam konteks ini, kita memerlukan interpretasi sintesis antar (2) ayat tersebut sehingga mampu memunculkan kesimpulan yang terintegrasi namun tidak membatasi kekuasaan kreatif-Nya. Karena Pada satu titik. Proposisi yang dibiarkan tidak sempurna di ujung ayat (1) diatas secara sintaksis mengisyaratkan ketakterbatasan, dan rencana-rencana penciptaan, Dia memelihara semesta dengan menciptakan. Pilihan kata dengan bentuk waktu lampau (fiil Madli) mengindikasikan bahwa dalam proyeksi yang relatif tahapan penciptaan Allah telah selesai, kewajiban manusia adalah menjaga harmoni kreasi-Nya dalam equilibrium yang Dia telah menetapkannya, akan tetapi pada perkembangannya (Qs. 6:8) menjelaskan bahwa penciptaannya bersifat kontinuitas, serasi dan seimbang. Hal ini berarti bahwa ayat (1) tersebut menunjukan tentang penciptaan alam semesta secara universal, malaikat, malaikat, Adam dan mahluk-mahluk lainnya dalam waktu enam hari yang dikenal dalam sejarah agama-agama.

Berdasarkan hal diatas, dapatlah kita uraikan bahwa Rabb tidak hanya mendidik paradigma agar mampu memahami tapi juga Dia telah menentukan hukum-hukum alam berdasarkan ketentuan yang proporsional dan senantiasa memelihara semesta dengan proses yang rasional dan kehendak-Nya. Inilah yang saya sebut sebagai realitas Al-qur’an, mengekskalasikan makna sejarah manusia dalam pencariannya kepada Tuhan, karena hakikat hidup manusia adalah berada di jalan setapak menuju Tuhannya, maka ia akan senantiasa terketuk hatinya untuk bertuhan dan menyandarkan pada cara-cara mencari kebenaran, sedangkan kebenaran adalah Tuhannya yang menciptakan.

Dia telah menjadikan manusia dari segumpal darah yang menggantung,

Keterpisahan ayat (1) dan (2) yang dapat saja disatukan seperti “bacalah atas nama tuhanmu yang telah menciptakan dan menjadikan manusia dari segumpal darah”. Memberikan makna lain di setiap sudut ayatnya, seakan mengindikasikan proses yang terpisah antara penciptaan semesta dan manusia sebagaimana sejarahnya yang disebut dalam kisah-kisah Biblikal. Terlepas dari semua itu, pada intinya ayat-ayat ini terformulasi sebagai ayat yang berfungsi untuk memperkenalkan Tuhan kepada warga jazirah yang kepalanya penuh dengan air yang berlumut, skeptis dan ingin menentukan jalannya sendiri, mereka bukan tidak memahami pernyataan Muhammad namun karena keinginan untuk mempersatukan pemahaman-pemahaman masa lalu yang didukung oleh semangat kesukuan yaitu melalui konvensi baik dalam persoalan keyakinan atau pun dalam masalah yang berkenaan dengan interaksi antar suku di jazirah, jika mereka yang buta huruf saja dapat mengerti pesan-pesan ilahiyah, akan sangat memalukan jika kita tidak mampu memaknai karena allah telah memperkenalkan diri dengan kreasi-Nya yang tak terbatas.

Penyebutan kembali kata “khalaqa” (menciptakan) di ayat (2) ini memberikan pengaruh psikologis kepada mereka yang membacanya. Menjinakan pikiran-pikirannya agar melihat jauh ke sudut hatinya karena ia akan dihadirkan pada proyeksi-proyeksi ilmiah dan biologis dalam sebuah sintatik nada yang teratur, suara yang samar ditengah (ikhfa) letupan citra-bunyi di awal dan akhir (qalqalah) yang membingkai keindahannya agar mudah untuk diingat dan membekas di hati setiap orang yang membacanya, meniupkan keseimbangan di tiap sisi-sisinya dan mengkonsepsikan humanisme transcendental serta kesetaraan di hadapan-Nya yang tersusun serasi di balik pendar ayat-ayat tersebut. Kata ‘Al-Insan’, dalam arti yang paling sederhana menceritakan tentang generasi pertama keturunan Adam, karena dari generasi pertama itulah, kehidupan manusia dimulai, sementara dalam pengertian yang lebih luas, ayat ini menunjukan pada kita mengenai manusia ilmiah dan religius yang padu dan sempurna, mempunyai kemampuan mistis, rasional, nalar ilmiah, bercita rasa seni dan diciptakan melalui proses panjang dan rumit. Manusia adalah makhluk-Nya yang mampu belajar dari kesalahan dan memperbaiki diri serta mengenal Allah dengan potensi yang berbeda itu. Al-Insan adalah manusia yang telah jauh melampaui dirinya dan pikiran-pikirannya seakan mampu mengekplanasikan ruang-ruang yang tak berbatas dengan tahap evolusi berpikir yang luar biasa.

Sementara di ujung ayat (2) ini, Al-qur’an memperlihatkan objektivitas ilmiah tentang proses penciptaan manusia, Allah berkehendak menjadikan embrio tetap ‘bergelayut’ di rahim dengan kehendak-Nya juga terdapat embrio yang tak mampu bertahan sebagai sebuah gambaran bahwa kehadiran kita tidak mungkin ada tanpa pertolongan-Nya. Muatan-muatan yang terkandung di ayat (2) ini, mempengaruhi penghayatan kita mengenai kedirian dan hakikat manusia yang tak berdaya dan tak berharga. Meskipun saat ini ia memiliki kedudukan dan status social yang tinggi, ia tak lebih dari segumpal darah dan tak berkuasa jika suatu saat dikembalikan pada kondisi sebelum ia hidup. Ia bahkan tak mampu menolak jika umurnya sudah ditentukan, tidak dapat diperpanjang dan meminta penangguhan.

Ayat ini pun berbicara banyak kepada kita tentang proses biologis kematangan janin. Itulah yang sekilas terlihat, Seakan alqur’an meloncat dari sejarahnya karena bagaimana orang-orang Arab di masa lalu dapat memahami kejadian tersebut. Pada tahap ini, Al-qur’an memaksa pikiran mereka untuk diam dan terhenyak agar terbantahkanlah paradigma mereka dalam memandang budak sahayanya, menggugah pikirannya agar mampu merenungkan mengapa majikan memperbudak seseorang yang terlahir dari jenis yang sama dan membuka kesadaran dalam nurani mereka tentang pengkhianatan dan pandangan-pandangan terhadap perempuan yang terlahir dari istri-istri mereka. Karenanya Berislam berarti membebaskan sekat-sekat di masyarakat untuk membangun konsep peradaban yang mendunia dan universal, mempersatukan seluruh ras manusia dalam satu konstruk masyarakat yang open-society tanpa batas geografis, demarkasi kebangsaan dan sekat etnis-kesukuan.

Bacalah untuk Tuhanmu Paduka yang Mulya dan Pemurah,

Setelah di ayat sebelumnya hati manusia yang berada di tepi jurang kebinasaan itu dihentakan pada Rabb Yang Menciptakan sejarah dan peradabannya. Melalui ayat ini, kesadarannya diarahkan pada sifat-sifat yang terpuji dan indah, kemurahan-Nya yang seakan hilang dari pangkuan sanubari dan bagaimana kemurahan tersebut membuktikan eksistensi-Nya. Karena seharusnya manusia tak berhak mendapatkan kemurahan Rabb yang Mengatur semesta dan memperkenankan kita untuk mereguk kembali iman yang menyejukan nurani serta hakikat yang membuka katup-katup kesadaran. Resonansi ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya merupakan titik awal pengenalan pada Tauhid Asma dan Sifat serta, melalui ayat ini Allah menyadarkan hati kita bahwa tanpa karunia-Nya kepada kita tidak mungkin kita mampu menyingkap rahasia Al-qur’an, realitas alam dan wajah-Nya. Rasulullah sendiri pun tak akan memahami ilmu-ilmu tersebut jika Allah tidak membimbingnya bahkan ada beberapa hal yang dihapus dari ingatannya.

Sedangkan penyebutan kedua kali kata ‘iqra’ di ayat (3) ini, merupakan proses reseptivikasi pemahaman manusia dalam ruang yang tertutup timbunan ide tentang Tuhannya, nurani manusia yang terjerembab dalam jurang skeptic, yang membuat ia menutup diri dari kebenaran dan intuisinya yang telah berkarat membuatnya tak mampu menangkap makna. Lalu bagaimana Wujud kemurahan Rabb, bukti kemurahan Rabb yang tidak membiarkan makhluknya yang tercipta dari segumpal darah yang bentuknya sederhana ini, bahkan tak terlihat keberadaannya di semesta, ia seharusnya mendapatkan azab, akan tetapi sebaliknya, Dia tidak membiarkannya tersesat dan terus menerus mengorbankan anak-anaknya untuk berhala-berhala yang diyakini keramat bahkan Dia membimbing dengan penuh kesabaran terhadap mahluk yang jika Dia kehendaki bisa saja dilenyapkan dari semesta. Manifestasinya adalah diturunkannya Al-qur’an dengan cara bertahap karena Jika Al-qur’an diturunkan secara sekaligus, hal itu akan memberatkan manusia, tak akan ada seayatpun yang akan kita mampu penuhi secara konsisten dan benar. Karena itu wajar jika ia menyambut kemurahan Rabbnya dan disiksa jika ia mencari jalan lain karena tiada jalan lain.

Menurut Faruq al-Nabhani hikmah diturunkannya Alqur’an secara gradual adalah agar Al-qur’an dapat berdialog dengan sejarah dan peradaban di zamannya, menyejarah dan mengkoreksi kehidupan manusia, senada dengan Faruq, Abdul Wahhab Khalaf menyatakan bahwa pada ranah syari’ah dikenal konsep Tadarruj fii Tasyri (bertahap dalam penerapan syariat). Karena itu sebagai wahyu Al-qur’an menjadi salah satu otoritas bagi Muslim, selain tradisi Islam yang lain seperti Hadits dan Ijtihad.

 (Rabb) Yang Mengajari dengan pelantaraan kalam.

Struktur sintaksis yang memformulasi ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya, berarti secara sekilas dalam pikiran awam kita ayat (3)dan (4) tersebut seharusnya tidak dipisahkan, ”Bacalah untuk Tuhanmu yang pemurah dan telah mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam’,(Qs. Al-Alaq (96): 4). Keterpisahan tersebut mengundang tanya bagi kita yang membacanya, karena itu setelah merangkai ayat (3) dengan Surat Al-Qalam ayat (1), mengakibatkan perluasan makna Al-qur’an dari yang semata verbal dan skriptural menjadi sesuatu yang eksistensial dan fenomenologis. Karena bagaimana pun mengintertekstualisasikan kompleksitas teks dengan teks yang lainnya, dalam keadaan tidak memiliki hubungan sejarah, konteks yang berbeda mengkonstruksi realitas sejarah yang berbeda dengan saat ayat ini diturunkan. Dalam ayat ini, kita diperkenalkan dengan Rabb berikut yang mensifati-Nya, dan diberikan celah untuk memahami perbuatan-Nya serta menjangkau-Nya dengan membekali kita kemampuan untuk memahami Teks (ayat qauliyah), Realitas (ayat Kauniyyah) dan Ide (bayan) serta merangkainya dalam hikmah sebagai titik dasar memperoleh ilmu, melalui sejarah, dan guratan di semesta serta pengalaman ruhaniyah yang hanya dapat dirasakan sesuai kedekatan dengan Allah dan penyerahan pada ilmu-Nya. Seperti halnya dalam terdapat pernyataan dengan menggunakan kalimat ‘mereka akan bertanya kepadamu’, menunjukan bahwa terdapat prevensi pengetahuan, artinya sebelum peristiwa tersebut ditanyakan telah diketahui sebelumnya.

Terkait dengan hal disebutkan diatas, jika dihubungkan dengan surat Al-Qalam dapat kita uraikan bahwa Al-qur’an dari awal turunnya merupakan sebuah titik sejarah ilmu pengetahuan yang ditujukan agar manusia membangun peradabannya melalui menulis dan inskripsi-inskripsi pengetahuan itu diwariskan sebagai kehendak-Nya yang mengajarkan Hikmah dan Din dari masa ke masa dengan pelantaraan kalam, yang dengan guratannya ‘dicatat’ setiap ciptaan-Nya, Dia mengetahui segala sesuatu hingga tidak ada selembar daun pun yang jatuh di muka bumi ini kecuali termaktub dalam kitab yang berada di Lauh-Mahfuz, seperti halnya Rasulullah, tak pernah menyangka bahwa peristiwa Nubbuwah di gua Hira’ tersebut akan terus berlanjut sepanjang hidupnya, melewati waktu lebih kurang dua puluh tiga tahun komunikasi yang transenden antara dirinya dan Tuhan terus berlangsung, mendampinginya dalam setiap keadaan hingga akhirnya terputus dan hilang sesuai dengan penyempurnaan wahyu dan tugasnya, kita masih terus mencari makna terdalam dari keagungan wahyu ilahi tersebut.

Mengajarkan manusia hal apapun yang tak pernah diketahui,

Ayat (5) adalah penutup kontak pertama dengan alam tertinggi, menurut Sayyid Quthb, peristiwa ini adalah awal mula dijelaskan konsepsi keimanan, awal dari ilmu pengetahuan diajarkan dan dari ilmu itu lahirlah ilmu-ilmu lain. Inilah pertama kalinya ayat-ayat Al-qur’an yang diturunkan kepada nabi-Nya dan mengubah pribadinya sejak saat itu serta mengantarkan paradigma yang selama ini menyelimuti kita, pada keseimbangan di bawah cahaya Al-qur’an, Ayat-ayat ini adalah bait pertama dan pengantar yang akan membawa cakrawala kita pada ilmu-ilmu yang lainnya serta menjadi arah diembannya kenabian dan dimulailah komunikasi yang transenden dengan alam tertinggi. Proses ini berlangsung seketika seperti hujan yang tanpa sadar membasahi kepala kita namun membekas berupa rambut yang kuyup, begitulah wahyu pertama yang mengawali prosesi kenabian tanpa perayaan dan cenderung sederhana. wa Allahu’alam bish- shawwab.

Demistifikasi Tafsir Adam-Hawa: Percampuran Cakrawala dan Pembumian Mitos Syurgawi

Membaca kisah Adam-Hawa yang terbayang adalah keindahan sepasang pecinta yang sedang bergumul dalam kerinduan, penyatuan jiwa layaknya tanaman dengan sinar matahari dan kemanjaan yang bertaburkan asmara. Banyak sekali puisi yang digubah untuk membuat kita berada di taman-taman yang penuh pelangi kemesraan dan beribu syair pun diciptakan untuk mengungkapkan hakikatnya. Bahkan cara pengungkapan cinta pun beragam dari mulai memberikan cincin hingga membangun Taj Mahal. Adam-Hawa adalah pasangan yang berasal dari satu jiwa, Hawa berasal dari separuh hati Adam. Sehingga demikian untuk menggenapi kejadiannya dan menyempurnakan rembulannya yang separuh agar menjadi purnama, Adam akan cenderung kepada Hawa dan mendukungnya. Itu menandakan keagungan cinta yang senyatanya tidak dapat ditukar dengan beribu candi. Ikhtisar ini bukan yang ingin direkonstruksi namun kita mencoba menempatkan kisah tersebut sebagai suatu jalan. Kaum sufi menganggapnya “jalan-jalan setapak menuju Tuhan” (suluk) untuk mencapai tingkatan penyerahan dirinya pada Tuhan. Makna mencintai karena Allah itu, tidak lain adalah membuat rasa cinta menjadi suluk, puncaknya adalah rahman dan rahim-Nya, insan pecinta menggali makna terdalam saling menjaga agar cinta yang dibangunnya tidak menghijab cinta kepada Tuhannya, Rabb bagi cintanya. itulah Mahabbah yang mengandung unsur getaran yang samar (khauf) dan harapan yang simpatik (raja).

Selain cinta yang dalam pengertian sederhana adalah penyatuan jiwa rasional (ilmu hushuli) dan intuitif (ilmu hudluri), Ibnu Arabi pernah menyatakan: ”seorang yang mencintai wanita akan dapat merasakan kecintaan pada Tuhannya”, perkataan ini sama dengan proposisi untuk mencapai hakikat seseorang harus berjalan dalam syari’at, karena syari’at itu adalah seteguk air yang diminum burung Khidlir di perahu yang ditumpangi sang guru Agung dan Musa AS, sedangkan hakikat itu samudera, ilmu Allah. jalan lainnya adalah Wahdatul wujud dan Wahdatus Syuhud. Kaum ‘Urafa  misalnya, mereka memperkaya cara yang dalam untuk mengalami meskipun prosesnya perjalanan simbolis dari realitas yang terukur menuju ranah yang intuitif, dilanjutkan dengan pengalaman tanpa “penengah” antara Theosentrique  dan antroposentrique, terakhir membumi dengan bekal yang ada dalam realitas untuk menyampaikan tariqah keadilan dan humanitas, yang dimaksudkan untuk dapat membuka horizon ruang dan waktu, dengan kata lain, mencairnya batas-batas historitas nalar, tradisi (turats) dan epistema (ma’rifiyah) dan sebagainya, diharapkan akan memungkinkan dapat membuka katup realitas yang terhalangi (Al-Kasyf Al-Mahjub). Seorang yang terbuka hijabnya ia akan melihat jalan yang lurus (Mustaqim), jalan yang jelas menuju kepada kebajikan, di akhir kisah ia akan melihat Allah (Syuhud) dalam pengertian kebenaran, bukan wujud Allah. meskipun perbincangan apakah di hari akhir dapat melihat Allah atau tidak, banyak mengemuka tapi dalam konteks ilmu lebih tepat jika diartikan maksudnya Kebenaran (Al-Haq). perkataan Al-hallaj : Ana Al-Haq, “aku adalah Kebenaran”, mewakili kata-kata diatas, kendatipun permasalah syahidnya di tiang gantungan, bukan karena pemikirannya saja, namun terkait dengan tuduhan bahwa beliau seorang Qaramith.

Saya teringat guyonan eyang sepuh yang diceritakan oleh salah satu kerabat, semasa dulu almarhum masih hidup beliau ditanya oleh salah seorang santrinya: “Pangersa ngadep jum’at dimana?”.“(Pak haji shalat jum’at dimana?), beliau menjawab: “parantos jum’atan di masjidil Haram, angkat nganggo bejana” , (sudah shalat jum’at di Masjidil Haram, berangkatnya menggunakan tempayan)”, perkataan beliau kalau dinalar jelas tidak rasional. Padahal hanya karena santri yang tidak melihat dan bertemu waktu shalat jum’at. Inilah yang dikatakan suluk yang digunakan untuk sampai ke arah yang benar, harus melalui suluk, namun suluk itu sifatnya intersubjective. bak mandi itu hanya satu cara saja, jalan menuju Tuhan itu tidak terbatas dan tidak dapat dibatasi oleh seseorang karena sangat bergantung pada pengalaman pribadi, Al-Ghazali menyatakan: “tidak semua orang sampai pada tingkatan yang sama”, maksudnya, tidak semua orang berpikir dengan cara yang sama dan mendapatkan petunjuk (hidayah) yang serupa. Karena jika sama maka hal tersebut berarti menganggap langit itu hanya setinggi pohon kelapa dan Pengetahuan Tuhan itu seujung kuku.

Menurut Nurchalish Madjid, Jalan menuju Tuhan itu sendiri sebetulnya satu, tetapi jalurnya banyak. Coba perhatikan, kata shirâth (jalan) dalam al-Qur’an tidak pernah disebut dalam bentuk jamak (plural). Tetapi kalau kata sabîl yang juga artinya jalan, banyak disebut dalam bentuk jamak. Misalnya dalam ayat, “Dengan itu Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang mengikuti keridaan-Nya menuju jalan kedamaian dan keselamatan,” (Q. 5: 16). Tidak disebut sabîl-a ‘l-salâm, tetapi subul-a al-salâm. Karenanya, itu berarti bahwa jalan menuju keselamatan itu banyak. Kemudian juga dalam ayat, “Mereka yang sungguh-sungguh mencari jalan-Ku [ridla-Ku], pasti Kami akan tunjukkan mereka berbagai jalan-Ku,” (Q. 29: 69).

Dalam al-Qur’an banyak ayat yang mengatakan bahwa seluruh pengikut Nabi adalah Muslim, yang berarti bahwa agama berkesinambungan (kontinuitas). Tetapi selain kontinuitas, ada perkembangan yang membuat agama semakin baik dan akhirnya menjadi sempurna. Sampai akhirnya Islam yang kita peluk itulah yang merupakan akhir dari perkembangan agama Allah. Kenabian itu pada akhirnya menjadi simbol dan episteme untuk mengintegrasikan wujudnya yang humanis sekaligus transenden, bukan sekedar kisah masa lalu tentang kepahlawanan, kesabaran dan keteguhan Nabi-nabi suci.

Kita belajar dari realitas masa lalu tentang nabi Ayub AS. Kita hanya sampai pada renungan terhadap (QS. 38:41). kita dapat memahami bahwa kesabaran seorang Nabi Suci Ayub AS, memang luar biasa, ketika kehilangan harta, anak-anak dan Istri. mungkin ia hanya sepenggal kisah di ambang batas terjauh dari penghambaan pada-Nya, bahwa kita tak memiliki apa-apa bahkan amal yang kita kerjakan dibantu Allah, lalu ketika kesulitan datang rasanya tak pantas hati ini mengeluh karena orang faqir seperti inilah yang akan masuk syurga tanpa hisab….dan selesai. Namun, jika kita menjadikannya ”jalan lurus” menuju kebenaran kita mendapati bahwa kenyataan yang dialami nabi Ayub adalah proses simbolis penambahan pengetahuan dari awalnya hanya nama-nama, berubah menjadi kalimat, barisan-barisan di lembaran suci dan akhirnya Kitab suci, semua tertuju pada satu pancaran dari Ilmu Tuhan. Karenanya wahyu, iman dan akal adalah ilmu pengetahuan itu sendiri.

Demitologisasi Adam-Hawa

Dalam pandangan Arkoun sejarah, pemikiran dan bahasa adalah prinsip-prinsip untuk mengkonstruksi realitas, perbincangan antar ketiganya merupakan proses pembebasan dari apa yang disebutnya sebagai kerangkeng rasionalitas yang dianggap perangkap ilmu pengetahuan. Pada kenyataannya, hal tersebut berbanding lurus dengan Derrida yang telah meruntuhkan kesakralan rimba perbedaan (Difference) yang dicitrakan dengan konotasi yang pasif, dan mengabdi pada poros tunggal tanda terakhir. ia lantas mengkritik dengan memunculkan istilah Differance dan mengubah endapan-endapan perbedaan dalam teks–linguistik menjadi sesuatu yang sifatnya aktif. Hal mana pernah disebutkan oleh Kuntowijoyo tentang perbandingan epistemologis Islamisasi Ilmu dan pengilmuan Islam. Perangkat-perangkat sejarah pemikiran tersebut merupakan upaya yang aktif dan beragam dalam memperoleh pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Makna sejarah, pemikiran dan bahasa secara filosofis merupakan makna yang dapat dipertukarkan, bisa saja pada proses diskursif sejarah pemikiran dan sejarah bahasa menjadi acuan sentral, karena tumbuhnya pemikiran akan berpengaruh pada pertumbuhan linguisitik dan cita rasa seni. Dengan Trilogy Sejarah, pemikiran dan Bahasa kita akan mengambil pelajaran (ibarah) dari kisah Adam-Hawa.

Kisah Adam, mulai dari rencana penciptaanya, rencana pengangkatannya sebagai Khalifah dan proses dialogis saat Tuhan memberikan pengetahuan seluruh nama-nama, benda-benda yang ditemuinya,  tidak cenderung menjustifikasi wujud Tuhan yang menempati Syurga, tidak pasti dan tidak dipastikan. Sampai saat Adam menyampaikan nama-nama yang diajarkan Allah, Tuhan sama sekali berada di puncak kesadaran, bukan bergumul bersama malaikat dan Adam.

Dan keshalihan pun bertanya, sepertinya keshalihan itu tidak cukup untuk menjelaskan rencana Allah, akhlak kemalaikatan yang setiap saat bertasbih dan mengkuduskan Allah pun tidak mampu menangkap rencana Allah, karena tidak dapat melihat kecuali dunia sebagai dirinya, karena itu keshalihan kadang bersembunyi di rumah-rumah dan terlindung di balik sayap-sayap malaikat. sehingga tidak terlihat, itu hanya satu bagian dari ilmu Allah. Malaikat adalah simbol Mistisisme, puncak dari ketaatan, harmoni dan energi kesalihan serta etiko religiousitas.

Kita sering mendengar dan kita menyukai ketika seseorang menyatakan bahwa manusia adalah khalifah, sama dengan rasa yang melambung ke awan ketika kita menjadi pusat jagat raya, pencipta realitas, pembangun peradaban dan manusia yang sempurna. Ini adalah bagian dari peran tanda yang berubah menjadi aktor dalam sandiwara hakikat, memainkan dirinya mempesona penonton dalam sebuah pertunjukan makna dan  memuji penontonnya hingga lupa diri. Padahal ia dicoba dibawa ke mimpi yang berbunga ilmu. Jangan terkecoh dengan permainan, namun saat pemain itu menarik nafas, saatnya kita mengkritik permainan tersebut, baru kita menyadari bahwa kekhalifahan itu yang kini kita pahami sebagai antroposentrisme, suatu anggapan manusia sebagai pusat jagat raya kebenaran yang dikhawatirkan jiwa shalih dan. Pandangan ini menyatakan bahwa manusia adalah penguasa alam semesta apapun di muka bumi ini adalah untuk pemenuhan kebutuhan manusia semata, maka eksesnya menyebabkan eksploitasi dan kerusakan lingkungan. kekhalifahan itu pun akhirnya menjadi semu.

Proses kultural antara Tuhan dan Adam, dimana Allah memberitahu nama-nama tersebut dengan cara yang memancing setiap pembaca untuk menggunakan pemikirannya dan ijtihadnya, karena persoalan apakah nama-nama tersebut dikonstruksi oleh Allah di benak Adam dalam hubungan komunikasi yang bercorak kultural, atau lewat bahasa seperti saat Dia merencanakan penciptaan Adam di hadapan malaikat dan mahluk-makhluk-Nya yang lain, atau dengan cara yang berbeda serta mungkin saja akan dipahami dalam lintasan sejarah yang lain.— Seolah-olah sejarah kejadian Adam tersebut diciptakan dalam ruang-ruang yang transhistoris dan akan senantiasa menjadi wacana paling renyah sepanjang sejarah. Kita pun dapat melihat bagaimana “manusia tidak mati” di hadapan Tuhan, seperti pasir berhadapan dengan berlian, pasir tersebut tidak tiba-tiba hilang. Runtuhlah anggapan ketundukan partikularisme di hadapan universalisme. Iman itu adalah ilmu yang membebaskan dan mentransendensikan, sebaliknya ketundukan pada makhluk itu memperbudak dan dalam wacana agama tidak ada yang berhak diagamakan dan disembah kecuali Tuhan. kemajemukan itu terletak pada makhluk bukan pada Tuhan, dan tiada sesuatu pun, bentuk dan gerak yang dapat diserupakan kepada-Nya.

Tuhan mengajarkan nama-nama, dalam perjalanannya memahami melalui apa yang ia lihat, rasakan dan ia pikirkan. berarti juga mengajarkan potensi untuk mengikat nama-nama itu dalam ingatan Adam, maka maknanya juga berarti Allah memberikan akal yang mampu menghimpun nama-nama, Akal yang mengikat berbagai fenomena, merangkai berbagai struktur, menjadi mazhab bahkan menciptakan mazhab yang bersebrangan dengan mazhab awalnya. Akal mampu menyingkap rahasia, sekaligus merangkai bunga-bunga hikmah dan kesalihan serta mengenali objek-objek yang terbaca olehnya. Artinya dengan kemampuan mengenali objek, menyelami mutiara kebijaksanaan para malaikat, manusia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki malaikat, manusia dapat menjaga agar kerusakan tidak terjadi, membuat cara-cara agar pertumpahan darah tidak terlaksana, jika tidak demikian maka, ia bukan manusia yang mengikuti petunjuk, tapi manusia yang tak mampu menjadi hakikatnya dan diragukan eksistensinya.

Selanjutnya adalah tahap pembuktian manusia bisa meniru dan membaca kehendak siapapun yang setingkat dengannya, minimal dia bisa melakukan proses penggalian terhadap jati diri pihak lainnya. ia merefleksikan dirinya sekaligus, meniru dan belajar dari kesalahan. apa yang Allah ajarkan?. nama-nama itu adalah setetes rahasia langit dan bumi, kemampuan untuk menangkap hakikat dan melampaui keterselubungan, setetes dari samudera ilmu Allah yang Maha berpengetahuan. Suatu saat percikan ilmu itu akan bermuara kepadanya, bersatu tanpa kehilangan keberadaannya karena ia telah diberikan kepada manusia, ia hanya menempati, karena samudera itu ada Karena kumpulan-kumpulan zat-zat, sedangkan Allah meliputinya. kemampuan inilah yang akhirnya menjadikannya pantas disebut khalifah.

Seperti yang telah disampaikan malaikat adalah simbol cahaya, kehangatan, energi keshalihan, etika namun malaikat itu pun terpisah ia hanya menjadi unsur yang harus diintegrasikan, harus dirangkai, maka sujud dalam pengertian ini adalah kesediaan etika murni, moralitas yang luhur untuk diikat dalam ilmu kemanusiaan, seketika manusia dapat meniru prilaku cahaya yang tidak pernah melihat bahkan dirinya sendiri, tidak pernah melihat kegelapan, cahaya yang tidak terbatas, hanya ketertutupan yang mengakibatkan semburat terhalang, tidak bisa ditembus cahaya, namun Adam dapat menghilangkan ketertutupan itu dengan atas nama dan apa yang dianugerahkan Allah. pendek kata, hasil interaksi antara Adam dan malaikat mengajarkan ilmu kedua, ilmu yang menggetarkan dan menyinari akal dengan kehangatan kemalaikatan.

Sebaliknya Iblis adalah simbol dari kebenaran yang menjauh, ketekunan hidup, kenikmatan mengabdi kepada Tuhan, ia menolak bersujud, maka menjadi sia-sia ketekunannya dan berubah menjadi destruktif dan memperbudak. Wujud dari kesenjangan antara kesabaran dan keikhlasan, kekaburan makna antara hasrat dan pengalaman. Simbol ini adalah tanda ketertutupan pada kebenaran diluar dirinya, namun menuntut dirinya diikuti karena kekayaan pengalaman. karenanya pengalaman pun akhirnya menjadi relatif jika menentang dan menjauhkan diri dari induk semangnya, padahal ilmu mengalami, ngelakoni, tidak akan terwujud tanpa bantuan dari Allah. Bagi Adam gesekan antara Iblis dan dirinya membuatnya belajar untuk menghilangkan efek negatif dari hasrat dan menyajikan kembali pengalaman untuk menjadi dunianya.

Tuhan memisahkan Adam dengan hawa, perentangan rasio dengan intuisi yang awalnya sejiwa, memisahkan nalar dengan khayal. wanita adalah lambang keindahan, kemewahan, kilauan jika didekatkan pada cahaya, keteladan, kasih sayang, perasaan yang lembut layaknya bulu angsa namun kuat seperti singa, keanggunan sekaligus pengaruh yang memojokan dan kesabaran. wanita memiliki sifat rahim juga dihiasi gairah, penerimaan dalam segala kesukaran dan ingin diutamakan. sebelumnya intuisi akan senantiasa mendahului meskipun tanpa alasan, namun karena tanpa objektivikasi, tidak tersucikan dengan kemalaikatan, lintasan hati itupun terkadang memperdaya. Sementara Akal akan mencari alasan, ia akan meminta rangkaian diluar dirinya, keshalihan yang sebelumnya diikatnya, sebagai materai yang berkilauan karena bergetar kepada Tuhannya.

Ketika kita mendiskusikan bagaimana Sabda Ilahi dalam benak Adam, kita dipaksa kembali untuk mengungkap bahwa Kalam Allah adalah bahasa Wujud yang Transendental tidak bersifat linguistik, terdengar tanpa suara, terlihat tanpa bentuk dan tanpa isyarat-isyarat melalui proses interaksionis karena aspek tersebut hanya mengantarkan pada pemahaman, melainkan di ambang batas akal, yaitu pemahaman itu sendiri. Seperti saat Adam dilarang mendekati pohon yang berada di luar Taman Babel, Tuhan hanya berfirman:”Jangan mendekati pohon ini”. Maka, secara serta merta Adam telah memahami maksud final dari Sabda-Nya, tanpa harus berpolemik dengan bermacam-macam jenis pohon.

Namun jelas disini, Adam dan Hawa menempati taman, ruang, suatu tempat dan horizon yang dihinggapi zaman, karena mereka jelas dapat meraba tempat itu, mereka memiliki kebebasan untuk bertindak, hanya satu yang harus mereka hindari “sebuah pohon”, pohon yang menyerap kebusukan dan sekaligus mengeluarkan kebajikan yang diperlukan seluruh mahluk, pohon adalah perwujudan dari kokohnya akar, kuatnya batang, dan rindangnya daun dari terik, bahkan menutupi cahaya sehingga tanah tempat tumbuhnya berwarna gelap dan abu-abu. mengapa pohon harus dijauhi, apakah pohon itu adalah pohon mistis lambang buah ilmu pengetahuan?. atau perwujudan dari kuasa ilmu, keradikalan yang destruktif, kewibawaan yang memaksakan pengaruhnya, kesantunan yang tiran. pohon ini telah menyerap keburukan, sedangkan ilmu yang adam dapatkan adalah tanpa cela, sehingga ketika mereka berdua mendekati pohon ini menjadi terjangkiti penyakit yang membuatnya tak pantas di taman itu. pohon itu adalah aturan dasar dalam mempelajari horizon, suasana pencari kebenaran, siapa yang mendekati ilmu dengan kasar, maka akibatnya ia akan terjungkal dengan sendirinya.

Ternyata, Adam jatuh oleh malaikat yang menyamar, kemunafikan yang menipu, kealiman yang menggelincirkan. hilang semua pakaian yang dikenakannya, pakaian yang membalut tubuhnya, pakaian yang pernah tersinari para malaikat.  kemudian, Adam dibekali cara untuk merangkai, menyulam “benang-benang syurga” dan ia kini menjadis eorang penenun, agar benang itu tersimpul dan dapat berguna dalam pengembaraannya itu menjadi sebuah kalimat, hanya pada saat Adam meninggalkan Taman yang indah (jannah), , ia menerima beberapa kalimat pertobatan; pertobatan yang dapat menjadikan ilmu yang dulu diajarkan kepadanya kembali dengan wajah baru, untuk menggali kembali jejak-jejak menuju apa yang pernah ia dapatkan.

Penutup

Dalam kisah Adam dan Hawa, terlihat runtuhnya khalifah (antroposentrisme), bersamaan dengan lenyapnya Allah (Theosentrisme) karena Tuhan dalam ayat-ayat diatas diceritakan sebagai pihak ketiga, dan runtuhnya teori keperempuanan ilahiyah (feminisme Thealogis), yang ikut terjungkal menjadi relatif karena ternyata tidak mampu untuk berdiri bersama antroposentrisme yang menjadi asalnya. Keruntuhan tersebut merupakan tanda terwujudnya realitas baru, ayat ini meninggalkan satu yang Abadi, kalimat Allah, pungkasan suci pertaubatan, yang diberikan kepada Iblis namun yang menerima kalimat pertaubatan itu hanya Adam. Bukan sekedar berakhlak baik dengan meninggalkan sifat jahat dalam diri manusia yang dibisiki Iblis, dan berintegrasi dengan kemalaikatan dan keshalihan pribadi karena telah ditinggalkan dan digantikan dengan ilmu tapi untuk membuat jalan menuju Tuhan (hidayah) yang Adam memintanya dengan susah payah. pertaubatan ini merupakan hasil dari proses strukturasi kesadaran transendental, Jika kita mengikuti hidayah sebagai langkah pertama, dan mencari tangga kedua menuju Tuhan, maka perjalanan dapat dimulai, Maka, dari situlah turunlah para Nabi untuk membimbing perjalanan manusia menuju Tuhannya, membimbing pencari ilmu pada kebenaran dan kaum mistis pada biara langit.

Kalimat pertaubatan itulah yang membawa manusia mentransendensikan dirinya. Mulai dari sini, tahap permulaan dari gerakan pemikiran, keimanan muslim pun berproses dalam tingkatan masing-masing, ibarat bayi yang baru belajar menangis untuk memberitahu ibunya bahwa ia tengah lapar. Dimana ilmu pengetahuan tersebut akan juga mengalami penjungkirbalikan, menempati waktu tertentu dan pada suatu waktu pemikiran tersebut tumbuh dan berevolusi seiring dengan perkembangan sejarahnya. Pendek kata, suluk itu juga bertambah dari sudut pandang pengetahuan:”bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu”. berarti juga romantisisme Kisah Adam-Hawa adalah langkah awal untuk  penggalian berikutnya, untuk menempuh bermiliu pengetahuan dengan berbagai cara, dan kiblat yang mungkin berbeda,Namun, dengan kaki menginjak pada dasar yang sama. Wallahu’alam.

Hijab: Feminin-Sofianik dalam Wacana Keperempuanan:

Dalam sebuah sambung rasa beberapa waktu lalu, suasana terlihat begitu lugu dan polos menyambangi isu jilbab, mungkin karena dihadiri oleh mereka yang sepenuhnya setuju. Suasana itu sama seperti beberapa tahun lalu ketika saya menghadiri Studium General dengan pembicara dari Jerman yang secara nalar telah terislamkan, namun masih terlihat tidak memperhatikan nilai-nilai permukaan, meskipun dapat berkilah yang penting substansi, jilbab hanya “cangkang” dan bungkus yang membalut kepala perempuan.

Mungkin karena saya terlalu menyikapi serius pernyataan pembicara, hingga mendorong saya untuk mengimajinasikan maksud pembicara dalam suatu analogi: “Di Barat, meskipun wacana liberalisme diangkat hingga ke pusat cakrawala, namun untuk urusan Hijab masih  dianggap pemasungan”. Jika imajinasi derivatif saya tidak keliru. Maka dekonstruksi terhadap makna kebebasan itu perlu dilakukan untuk mengeluarkan signifikansi yang didiamkan oleh kebebasan yang memasung,  pemahaman asal tentang hijab yang dituduh kearaban dipahami dengan sub-konteks yaitu ‘Jilbab’ itu pun seharusnya ditafsir-ulang, dan pengarusutamaan gender dalam perspektif dramaturgi-sofianik dalam wacana kenabian (Khitab An-Nabawi) melalui kisah-kisah Hawa (Eva dalam Biblikal), Ibunda Musa, Isteri Fir’aun, Hajar sang pelempar Iblis, Balqis dari Syeba, Maria puteri Imran, dan Khadijah serta wanita-wanita lainnya yang mungkin mengikuti jejak feminisme-historis yang akan saya munculkan.

Kepolosan Natural Wanita dan Keluguan Pekerti Perempuan Syurga.

Sebelumnya tepatnya pada tahun 2009, saya bertemu seorang temen, Kahfi Salim, saat ia mengajar ia mendengar protes seorg Akhwat, hati saya tak henti beristighfar:“Allah itu tidak adil sudah disuruh jilbaban, panas dan gerah setelah nikah dimadu, banyak masuk neraka, itu mending, di surga jadi objek kesenangan dan harus melihat suami bergonta-ganti pasangan dgn para bidadari”. Saya terdiam, dan berpikir apa jawaban saya jika ditanya seperti itu, beberapa waktu lamanya hingga hampir terlupakan terlintas dala pikiran saya;”Pertama, memakai jilbab tidak untuk menyusahkan namun untuk kelapangan, bukankah anda selalu risih dengan tatapan mata laki-laki?. Jilbab menjadi simbol kehormatan dengan batasan agar tidak dirisihkan pria-pria lainnya dan apakah engkau ridla jika di dunia merasa gerah namun di akhirat nanti mendapatkan hawa yang sejuk, atau sederhananya saya kira tubuh anda akan beradaptasi dengan pakaian yang anda kenakan; Kedua, persoalan poligami itu tidak wajib, bahkan bisa jatuh pada keharaman apabila memaksakan diri padahal tidak mampu; Ketiga, Wanita banyak masuk neraka, namun tidak sedikit laki-laki pun mengalami hal yang sama, hal itu  hanya berlaku untuk orang yang menghasratkan diri pada kesempurnaan sehingga ketika ada kesalahan membatalkan seluruh kebaikan yang dilakukan oleh pesakitan; dan Kelima, Saya lebih memahami kata “ajwaz” disana sebagai pasangan  dalam arti “banyak untuk banyak”, sehingga meskipun seorang wanita itu satu namun kecantikannya dan kesempurnaannya melebihi kecantikan 70 bidadari atau Miss Universe yang dianggap tercantik di dunia”. Saya kira pertanyaan terhadap hal-hal ini adalah karena adanya anggapan bahwa syurga sebagai replika dari kehidupan duniawi, padahal Syurga itu “melampaui dunia”, sehingga pada titik tertentu kita tidak harus memasrahkan pada otoritas penafsir teks, namun berserah diri pada pemilik wahyu.

Meskipun tulisan ini tidaklah baru, bahkan dalam beberapa paragraf saya mengambil dari catatan saya di kajian “kegetiran dan eksistensi beragama yang terluka” bersama beberapa kawan dan hasil diskusi saya beberapa tahun lalu tentang substansi ayat (QS. Ali-Imran [3]: 14) dengan seorang Pengajar di Pesantren,  selebihnya terilhami dari diskusi panjang dengan seorang dosen di Fakultas Hukum yang juga menempuh S3. Namun semoga saja, saya bisa merenovasinya dan menyuntikan aroma baru. Karena saya melihat ada tiga bahasan besar tentang perempuan, yang pertama dalam Surat An-Nisa, cenderung berbicara tentang ontologi-kosmologi perempuan, Surat Al-Ahzab: tentang norma-norma yang melindungi perempuan (Hijb Al-Ijtimaiyah) dan hukum keluarga dan reproduksi (An-Nasl) yang dijelaskan dalam surat Ath-Thalaq. saya hanya membahas dua tema saja dari tiga tema ini, dikecualikan Bahts An-Nasl dan hukum domestik dengan simbol “wanita ada pakaian lelaki, suami pakaian perempuan” karena tidak termasuk dalam pembahasan hijab.

Perempuan Tercipta dari Jiwa.

Penciptaan (khalq) perempuan dalam pembahasan ayat An-Nisa mengisyaratkan nalar-nalar moralitas (Akhlaq),  Kemiripan definitif antara penciptaan (khalq) dan moralitas (akhlaq) menandai ”hukum kosmologi dan tindakan” bagi perempuan, seolah-oleh perempuan adalah ”penciptaan” dan ”penghias budi pekerti”. inilah yang tidak dimiliki lelaki, wanita adalah utusan Tuhan untuk menciptakan sehingga perempuan dinamai ”rahim” (kasih-Nya), kisah Hawa menggambarkan ‘bahwa wanita adalah ‘penyebab’ dalam penciptaan tersebut.sementara pada sisi lainnya wanita adalah ‘tindakan keanggunan’ (lutf) atau bahkan ”perempuan pelempar syetan” (al-jumaraat), seakan-akan perempuan dengan keanggunannya dan pesonanya yang berhijabkan ketakwaan, memancar keluar melalui  jilbabnya dapat mengusir kecenderungan buruk.

Melalui etimologisasi kata ”hijab” ke makna asalnya (Nash- Muawwal). Saya melihat bahwa artinya adalah ”tabir”,  kata dalam bentuk tunggal disebutkan untuk Allah dalam (Qs. As-Syura [42]: 51) dan disebutkan dalam bentuk plural ”Ahzab’ (tabir-tabir) ditujukan pada varian-varian sosial, budaya dan nilai-nilai yang mempengaruhi perempuan. Dari ziarah ayat ke ayat tersebut, saya melihat pola bahwa pemaknaan terhadap Hijab adalah wacana-wacana ‘privat’ namun mampu memancarkan ide-idenya tanpa menampakkan kecantikan-raganya dan dalam penampakan sosial yang saya jumpai “tanpa ketukan dan  tarian kaki-kaki lentiknya”. (Qs. An-Nur [24]: 31) tentu saja saya menyukai dan kadang mengikuti hentakan irama lantai tersebut karena hal tersebut dorongan refleks saya, sebagaimana saya melihat wanita berjilbab furdah, spontan saya bertanya, apakah dia cantik, benarkah dia terjaga dari pandangan laki-laki sehingga pria yang bukan mahramnya tak berani mengganggunya karena hijab mampu mengantarkannya dan mempengaruhi siapapun yang melihatnya pada ma’rifat (an yu’rafna).

Dalam konteks sosial, perempuan sebagai tercipta dia diciptakan dalam ‘penciptaan yang pasif’ (Qs. An-Nisa [4]:1), tentu saja kita harus memaknai ini dalam konteks interpretasi–feministik atau paling tidak memandang ayat ini dengan pandangan yang simpatik, saya melihat dalam ayat lain, perempuan dicurigai seperti dalam kisah: Nisa’il Hijrat (Qs. Al-Mumtahah [60]:10) yaitu Perempuan yang ingin mengubah arah hidupnya, ketika disudutkan oleh anggapan-anggapan yang misoginis dari kaum Adam yang kontra-produktif, tidak memperhatikan kemanfaatan (Mashalih) karena pandangan misoginis yang curiga kepada perempuan tersebut ditentang dengan ayat ini, sehingga seharusnya ketika ada wanita yang terzalimi lelaki harus berada di depan, jangan membiarkan wanita memperjuangkan haknya sendirian.

Kita melihat bahwa hijab menandai ”keghaiban perempuan”, bahkan Ibnu Arabi menjuluki perempuan sebagai ”citra ilahi”, akibatnya dalam konteks sosial perempuan harus menyembunyikan dirinya dalam tabir-tabir yang menutupi keanggunan, hasrat (kuasa) dan keibuannya, sehingga konstruksi norma sosial juga diarahkan untuk melindungi perempuan dari tatapan kebebasan yang tertafsir karena wanita seharusnya berprilaku seperti Tuhan dalam tindak-tanduknya (tahaluq bi akhlaqillah). Tuhan MahaTersembunyi, wanita menyembunyikan dirinya dalam balutan furdah dan Cedar, menutupi seluruh tubuhnya, hingga selembar rambut pun sebisa mungkin tidak terlihat agar terjaga tidak  terjerumus oleh keinginannya untuk dianggap angsa putih yang gemulai jika di Barat dan dalam tradisi Arab yang bersanggul dan berlenggak-lenggok seperti jalannya burung unta, tertawa keras-keras seperti himar, menampakan ketidakanggunannya, dalam  bahasa agama dianggap ”prilaku tidaksesuai fitrah”.

Dalam Kisah Zulaykha terlihat bagaimana sikap natural perempuan (Qs. Yusuf [12]: 25 dan 31), sebagaimana Abuya Hamka, sepertinya perempuan lebih berbahaya daripada kelicikan, karena wanita akan memanipulasi orang-orang yang menganggapnya salah, dengan tabir-tabir tabiatnya untuk dirinya, menyamarkan kelicikannya dan kerumitannya. Karena memang sikap natural (thabiat) perempuan memang seperti demikian, inilah sikap perempuan yang tidak membebaskan dirinya, dan dikecam Al-Quran sekaligus dialihkan, ditransendenkan atau disucikan Islam dengan ”tabir-tabir kesucian” yang mendewasakan dan mengangkat martabatnya.

Perempuan tersucikan, dalam fenomena sosial dari ”rayuan berhias, berbusana, mode dan bergaya feromon”. Dalam psiko-analisis sederhana saya terhadap tanda tersebut dan menghubungkan dengan teks ahzab, saya menghampiri (Qs. Ali Imran [3]: 196-197), yang mengisyaratkan “kebebasan palsu”, dengan logika aksiomatis, bahwa ketika seseorang yang dipengaruhi hasrat, keinginan yang ditujukan untuk pemuasan dan kesenangan dirinya hakikatnya tidak bebas, melainkan ia dibawah kendali alam bawah sadarnya” dan dalam banyak hal, kelemahan wanita ada sanjungan dan rayuan, implikasi psikologisnya perempuan tersebut dapat terantuk ke area ”kepolosan natural”, bersikap layaknya perempuan pada umumnya, perempuan yang tangannya teriris saat melihat Yusuf, atau Balqis yang menyingkapkan betisnya saat melihat lantai yang seperti telaga demi menarik hati Raja Sulaiman, singkat kata, sensualitas merupakan laku paling primitif di kalangan wanita yang harus dijauhi oleh wanita muslimah. Dalam hal ini, perempuan akan mengikuti suatu ‘bahasa hakikat’ yang tidak mengenal baik dan buruk dalam situasi ‘menembus alam bawah sadarnya’, atau ia akan berada pada bisikan-bisikan nurani yang melindunginya seperti dalam sayap-sayap malaikat.

Kebebasan dalam hakikatnya berarti kebebasan dari kungkungan yang diciptakan hawa nafsunya sendiri  dan angan-angan di luar dirinya. Saya melihat (QS. Ali-Imran [3]: 14), terutama saat saya membacanya dalam bahasa arab: ”Zuyyina Linnas Hubb Syahawat min Nisaa wal banin wal-qanathir muqantharah minadz dzahab wa al-fidhah”, gaya bahasa metafora (kinayah), yang diselingi ”peminjaman kata” (isti’arah) dan eclipsme (hadzfu), seperti ini berpengaruh dan berkesan dalam hati saya., kalimat ini saya terjemahkan setelah merekonstruksi pendapat Sayyid Quthb dalam Fii Zhilal Al-Quran dan Yasraf Amir Pilliang dalam kitab Dunia yang dilipat, ” “Direkayasa bagi manusia, pantulan benih-benih libido yaitu ekstasi-erotika dengan libidonomic sebagai orbitnya”. Jadi sebetulnya yang membuat wanita kehilangan dirinya dan terbius oleh pasar itulah ketidakbebasan karena ia hidup via kontrak dari belenggu ke belenggu lainnya sehingga bertolak dari sini juga kita mulai bertanya apakah yang dinyatakan tanda-tanda ini apakah ’Jilbab’ atau kebebasan yang terpasung. Karena jilbab hanya satu cara untuk menutup aurat, diluar itu terdapat cara lain yang sesuai dengan horizon makna dan kebudayaan.

Perempuan Syurgawi berhias cahaya kenabian

Kebebasan yang dimiliki perempuan adalah kebebasan pasif yang teratribusi dari kenabian. Kebebasan pasif perempuan justru itulah kebebasannya, tidak membuatnya terbatasi karena berasal dari Nabi sendiri dan tidak juga menjerumuskannya pada hutan belantara “panah-panah Iblis”, karena itu Hijab sudah ditentukan standarisasinya berdasarkan hikmah kenabian ini:

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Ahzab [33]:59).

Saya berpegang pada “keumuman lafadz”, kebalikan dari “kekhususan sebab”, saya melihat tema-tema ini sangatlah tidak normal, dilihat dari tata bahasa, seakan-akan untuk masalah jilbab ini, memerlukan penanganan khusus dan kebapakan. Saya melihat alurnya nampak jelas, berhijab harus berasal dari seorang suami muslim yang menyuruh isterinya, diikuti oleh anak-anak perempuannya, maka komunitas muslim pun memiliki identitas, hal ini sama seperti wanita kristen yang berkalung salib sebagai identitas keberagamaan mereka. Dari sinilah saya dapat mengatakan bahwa kebebasan pasif yang teratribusi dari kenabian ini bekerja, artinya seorang isteri mentaati berjilbab kepada suaminya, anak perempuan mentaati ayahnya, dan wanita muslim lainnya menjadi pembuktian keimanannya terhadap kenabian Muhammad, terlihat dari leksografi ayat tersebut “perempuan beriman” (Nisa’il Mu’min).

Batas-batasan tabir terhadap wanita mukmin, didapatkan dengan melihat kisah perjumpaan Nabi dengan Asma binti Abu Bakr Ash-Shidiq, kita melihat Rasullullah menyuruh Asma bersembunyi di balik tabir Jilbab itu, : “Jika wanita sudah dewasa, maka yang boleh terlihat darinya adalah ini dan ini (dita’liq oleh Abu Daud: sambil menunjukan “wajah dan telapak tangan”, meski demikian, ada riwayat lain yang menyatakan bahwa yang ditunjuk oleh Nabi: “kedua matanya dan telapak tangannya”. Terlepas dari dua hal tersebut, karena bercadar juga baik dan dicontohkan para istri Nabi, dan mereka memiliki “kekhususan” dalam penjagaan dirinya, dibanding dengan wanita muslim lainnya, jika ingin mengikuti istri nabi juga tidak bermasalah, jika diletakan dalam kerangka menjaga “kesucian diri dan niat” terutama bagi kalangan keluarga pencerah yang menyampaikan hikmah kenabian. Dari sini dapat saya katakan bahwa semakin terhormat seorang perempuan dalam Islam, ia semakin menutupi dirinya dalam tabir kesucian (hijab) sehingga lelaki manapun tidak berani menjamahnya atau menaruh hormat sehingga tabir-tabir ruhani yang terpancar darinya menghilangkan keinginannya baik untuk menyentuhnya maupun dijamah lelaki yang bukan haknya.

Tujuan Syari’at Jilbab ini, adalah untuk mempersaksikan diri mereka sebagai wanita beriman, membedakan ia dengan wanita beragama lainnya, Jika wanita non-muslim memperkenalkan diri mereka dengan simbol-simbol, maka wanita Islam memperkenalkan diri mereka melalui jilbab yang tidak melarang wanita non-muslim untuk tidak mengenakan simbolnya, tapi hanya untuk membangun dunianya, tanpa menghancurkan hak-hak orang lain, agar dikenali kehadirannya dalam masyarakat, batasan berhijab adalah hingga ia tidak pantas diganggu oleh lelaki yang bukan mahram, jika ia masih diganggu hal itu berarti dua kemungkinan tabirnya yang sifatnya pekerti tidak sesuai dengan pakaiannya, atau lelaki yang ditemuinya adalah seorang yang berkelakuan buruk sehingga berani mengganggunya. Sepertinya tabir yang dimaksud mulai merambah ke kondisi psikologis wanita beriman, ketetapan hatinya untuk tidak menarik perhatian dengan cara-cara yang natural-ragawi. Inilah yang saya maksudkan dengan tidak diganggu yaitu dalam hubungan dan interaksi sosial, sekaligus tidak mengganggu hak-hak orang lain karena bagimana pun hubungan sosial adalah hubungan timbal balik, dalam istilah arabiyah (etika-sosial) idza tu’amilka yu’amilka, kebebasan yang dimaksud adalah tidak dizalimi dan orang lain bebas secara spiritual.

Berjilbab bukan masalah gender dimana lelaki lebih baik dibanding dengan wanita atau sebaliknya tapi sebagaimana yang disebutkan Al-Quran, karena bagi saya, ayat-ayat-Nya senantiasa memiliki cara penyampaian yang romantis dalam melukiskan ketaatan seorang perempuan, seperti berserah dirinya “Balqis dan Sulaiman” (QS.An-Naml [27]:44); ketaatan anak perempuan pada ayahnya seperti ketaatan Maryam kepada Zakariya (Qs. Ali-Imran [3[: 37) dan ketaatan komunitas muslim kepada kenabian seperti “Struktur yang taktertembus” (Bun-yan Marshush: Qs. Ash-Shaf [61]: 4).  Pendek kata, Signifikasi dari ayat ini adalah mandat dari seorang Nabi kepada seorang suami, ayah dan anggota suatu komunitas muslim yang besar, sekaligus atribusi pada seorang isteri, ibu yang menjadi teladan hidup bagi anak-anaknya “di jalan kesucian” (Al-Azkiya), sehingga saya melihat, pada satu sisi terdapat Marital-System dan Cultural-responsibility sedangkan pada sisi lainnya spiritual-transendental agar perempuan beriman berakhlak dengan “pekerti Ahli Syurga”, yaitu Terma-terma sofianik dalam menyebut ”perempuan syurgawi”, seperti istilah Qeshirat: bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya, seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik. (Qs. Ash-Shaaffaat [49]: 48-49); dan Huur’ein: bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. (Qs. Al-Waqi’ah [56]: 23-24). Jika pun wanita itu keluar rumah, karena wanita muslim memiliki tugas untuk menjaga harmoni sosial (Shalihat), beraktivitas militer (Qanitat) dan beraktivitas dalam keilmuan (Hafidhat) seperti dilukiskan (Qs. An-Nisa [4]: 34), maka pekerti ahli syurga ini tetap menyertainya. Perempuan yang tak terlihat raganya namun amal keindahannya tercium sejauh perjalanan menuju Syurga.

Persoalan Poligami yang Menjengkelkan.

Almarhum Kakek dari garis keturunan ibu, beliau adalah pengajar agama di masa lalu, memiliki tiga orang istri, untuk saya keluarga kami menjadi keluarga besar yang berjumlah sekitar 26 orang, karena dari istri pertama beliau memiliki 12 orang putra termasuk putri, dari istri kedua, yaitu nenek kandung saya memiliki 3 orang anak dan istri ketiga memiliki 11 orang putra-putri. bagi saya, persoalan poligami merupakan persoalan yang poly-interpretatif, karena muslim mendasarkan pada “pemahaman terhadap” wahyu dan hal itu senantiasa berubah, bukan dalam pendekatan fenomenologis, atau meminjam istilah tasawuf Kasyf Mahjub menanggapi hal tersebut, salah satu alasan yang dijadikan dalil bagi lelaki yang ingin berpoligami adalah prilaku Nabi Muhammad, Ibrahim, dan Ya’qub, masing-masing memilik karakteristik yang berbeda dan dijadikan alasan-alasan dalam berijtihad, serta surat An-Nisa [3]:2- 3, yang berbunyi:

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim yang sudah balig harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan itu, adalah dosa yang besar. 

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap hak-hak perempuan yang yatim bilamana kamu mengawininya, maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. 

Aminah Wadud  yang telah masuk Islam cenderung menganggap bahwa ayat tersebut ditafsirkan berdasarkan pandangan misoginis tentang perempuan. terlepas dari kontroversi tersebut, saya melihat ayat ini sebagai kesadaran kolektif, kesadaran historis yang akut dalam tapal batas sejarah keperempuanan dan bagaimana poligami dapat diaplikasikan dengan syarat-syarat yang tidak bisa ditawar, bagi saya ada dua makna dalam ayat tersebut pertama makna yang diperoleh dari interpretasi metaforis, mengenai penyandaran transendental bahwa mengurus harta ummat itu mirip dengan mengelola harta anak yatim, dan kedua makna hukumnya yang dapat diperoleh melalui induksi terhadap ayat tersebut, saya mencoba membagi makna tersebut dalam beberapa kategori diantaranya:

1. Pemisahan harta antara anak yatim yang belum balig atau cakap baik yang bentuknya warisan dari kerabatnya maupun donasi dari para dermawan, sehingga tidak memiliki keinginan buruk untuk menukar dan mengambil alih kepemilikan harta tersebut baik dengan bujuk rayu dan atau memakan hartanya meskipun bersamanya, hal ini berarti pengelola mendapatkan gaji dari usahanya atau dari zakat orang muslim, karena pernikahan dalam Islam bertujuan liberatif sebagaimana diuraikan dalam hadits: ’Tatkala Nabi saw menikahi Shafiyyah, Beliau menjadikan pembebasan dirinya sebagai mahar. Beliau mengadakan walimah selama tiga hari’(HR. Abu Ya’la)

2. Menikahi anak yatim saat ia balig dianjurkan dalam catatan memberikan kondisi yang adil bagi wanita tersebut, tidak dibenarkan jika ada calon suaminya yang lebih baik dalam pandangan Islam dan lebih disukai wanita itu, kemudian pengelola melamar anak yatim tersebut untuk keinginannya pribadi, karena ayat tersebut cenderung pada kenyataan psikis wanita yatim yang akan dinikahi, hal ini pun dalam kerangka menjaga agar mampu mengelola harta anak yatim tersebut dengan baik untuk kepentingan mereka yang bersamanya atau anak yatim yang lainnya yang dibesarkan bersamanya dan menjauhi dari perbuatan tercela;

3. Menikah lebih dari satu orang istri adalah untuk memberikan kasih sayang kepada anak yatim dan menjaga agar tidak ada ketimpangan sosial ini pun dengan syarat-syarat yang sangat ketat, untuk seorang yang mengurusi kepentingan ummat ia diperbolehkan poligami karena alasan-alasan bahwa ia dapat membagi wilayah pribadinya dengan istri-istrinya, dan mencurahkan perhatiannya pada kepentingan ummat;

4. Poligami mensyaratkan keadilan domestik yang melekat dan menjadi kewajiban bagi pihak suami, secara umum, ada dua hal yang harus dipenuhi dalam keadilan domestik yaitu keadilan dalam ekonomi (Qisth) dan keadilan dalam perlakuan emosi dan perasaan (‘adil), namun sebagai upaya prevensi poligami tidak diperkenankan jika tidak memiliki kemapanan ekonomi dan psikologis;

Legasi Nabi yang mencakup perbuatan batin (sir) dan lahir (zhahir), yang dalam sejarah pada awalnya disebut dengan sunnah meskipun saat ini telah bergeser menjadi istilah hadits, mensyaratkan hal lain terkait dengan meminang seorang wanita bagi pria yang mampu secara ekonomi dan perlakuan emosi namun telah beristri. sebagaimana dicatat dalam sejarah peminangan Aisyah binti Abu Bakar RA yang saat itu belia (jariyah  sekitar 12-21 tahun bukan sibyah yaitu usia anak 5-12 tahun) atau lebih tepatnya dipinang saat Usia 18 tahun dalam riwayat Al-Bukhari karena Aisyah telah mengikuti perang Badar dan perang Uhud, dalam hadits riwayat An-Nasai ketika Aisyah menerima pinangan Rasulullah, Aisyah mengatakan: “Rasulullah, aku telah merelakan apa yang diperbuat ayahku, akan tetapi aku hanya ingin memberitahu kepada semua wanita bahwa mereka (para ayah) tidak berhak menikahkan mereka tanpa seizinnya”.  Hal ini pun memberikan konsekuensi hukum kepada umat Islam mengenai batas-patut umur wanita yang boleh dinikahi (kafa’ah)  dan mengenai ketentuan wali tidak memiliki otoritas absolut untuk menikahkan puterinya dengan orang lain tanpa seizin wanita tersebut, meskipun nabi menyetujuinya dengan isyarat. Wallahu’alam bish shawwab.

Untuk Mereka yang belum berjilbab;“Sebagaimana sinar matahari pagi yang senantiasa datang, itu berarti kamu tidak harus mencari karena hakikatnya ia tidak pernah pergi, bukankah bisikan utk menjadi “wanita sesungguhnya” itu selalu ada, sebagaimana pada saat yang sama kamu menolaknya, dinda?. sekarang bukalah jendela hati, biarkan kehangatan itu masuk, Tuhan tidak pernah pergi, hanya kita yang tak pernah membukakan pintu”

Menempa Natural Spiritual Menjadi Religio-Habitus

Jika puasa untuk merasakan penderitaan mereka yang tidak berpunya, Apakah tidak lebih baik memberikan mereka makanan?; 

Jika puasa adalah istirahatnya organ tubuh; Maka bagaimana dengan para model yang menjaga proporsi tubuhnya, Apakah mereka tidak memerlukan puasa?. 

Jika berpuasa untuk mengendalikan diri dan hawa nafsu  Maka jika telah mencapai kebijaksanaan berarti puasa menjadi hal yang boleh hilang. 

Jika puasa dimaksudkan agar manusia menjadi merasa cukup dengan yang ada. Bukankah seharusnya orang yang kaya saja yang harus berpuasa. 

Jika puasa adalah agar dapat welas-asih, Maka, puasa itu akan berada di langit sahaja.

Maka, Liberasikan ayat-ayat Puasa, engkau menjadi ayat itu karena al-maujudat itu adalah tanda-tanda keagungan-Nya. jika dzatmu tidak merasa menjadi ayat-Nya, maka seribu tahun puasa tidak bisa menebus satu tetes minyak Misk Syurgawi.

 Puasa itu harmoni, Solo,05/8/2011. 

Bagi Komunitas muslim bulan ramadlan merupakan bulan penuh rahmat dan keberkatan seorang muslim yang tinggal di pedalaman sekalipun akan berdo’a kepada Allah dengan penuh kesungguhan dan sangat mungkin untuk dikabulkan hal ini didasarkan pada hadits nabi yang menyatakan; “man shaama ramadlana iimaanan wa ihtisaaban gufira lahu maa taqaadama min dzanbihi”, barang siapa yang berpuasa di bulan ramadhan dengan keimanan dan ihtisab (menghitung, memperhitungkan atau meminta hitungan) diampuni baginya dosa-dosanya yang dilakukanya dimasa lalu. Maka, wajar kiranya Nabi melakukan pengkondisian terhadap bulan Ramadlan dengan berpuasa pada bulan Sya’ban, karena pada bulan puasa bukan saja sangat pekat dengan peristiwa-peristiwa menakjubkan seperti turunnya wahyu, namun juga pada bulan puasa ada proses ‘revisi’ terhadap takdir manusia, manusia sudah diuji selama satu tahun.

Bulan Ramadlan adalah momentum transformasi kealamiahan spritualitas Muslim yang terbentuk karena menjalani kewajaran sebagai seorang muslim mentaati ajaran Islam, menuju keberagamaan yang natural sehingga seorang muslim tidak lagi menganggap bahwa menjalani perintah agama sebagai sesuatu yang memaksa, tidak nyaman dan serba hitam-putih, namun muslim menjalani ajaran agama karena telah menjadi alami dan terbiasa di dalam dirinya tanpa merasa terpaksa dan berat hati. Keyakinan semacam itulah yang menghidupkan kembali jiwa seorang muslim agar dapat terbuka dengan perbedaan, saling memahami dengan sesama manusia dan mengubah jiwanya dari yang semula berpotensi baik menjadi berakhlak yang baik, sebagaimana tembaga yang ditempa dengan senyawa kemurnian menjadi kepingan emas yang berkualitas karena pada saat itu hati mentahirkan akal, akal mendidik jiwa serta jiwa mempengaruhi amal, perjalanan dari yang hakikat menuju yang bermanfaat.

Dilihat dari konteks origin (source) titikberat ayat-ayat puasa sebagai natural spiritual (at-tabi’ah ar-ruhaniyah), kebiasaan ruhani yang berjalan dalam denyut nadi pengalaman kaum berpuasa berproses dan berjalan lambat secara grafik menuju religiusitas yang natural (At-tahaluq Al-‘alamy). Natural spiritual terbentuk berdasarkan teks-teks agama (Legasi Ilahiyah, Legasi Kenabian, dan Legasi ‘Ulama), sementara religiusitas yang natural terbentuk sebagi efek dari natural spiritual dan menjadi bangunan dari gerak individu, relasi timbal-balik dengan alam dan apapun yang dihadapinya sehingga pada akumulasinya dapat mewarnai psiko-gnosis kaum berpuasa. Wajar jika nuansa kedamaian membentang sepanjang bulan ini, keterbukaan, understanding others, Jihad bagi mereka yang tertindas dibalut dengan aura keshalihan yang mulai terasa dan tercium wanginya, sebelum hari pertama puasa. tentu saja, apa yang kita rasakan mungkin berbeda dengan orang lain, baik pada waktunya, entah sebulan, dua minggu atau bahkan sehari sebelum kita berpuasa, dan tentang keindahannya yang juga akan dirasa berbeda (Prelogical Knowledge) serta tidak mudah untuk dijelaskan (Preverbal Knowledge), atau ibnu Taymiyah mengistilahkannya sebagai “ilmu bi laa ta’rif” (Knowledge without definition). Namun, pada ranah empiris (‘amaliyah) hal tersebut berlaku dan dirasakan secara tersendiri, sesuai pengalaman individual dan bersifat intersubjektif.

Komunitas Muslim setiap tahun senantiasa memperhitungkan penetapan awal puasa dan hari raya dengan seksama (berdasarkan peredaran bulan) karena menyadari ketatnya dan disiplin diri yang dikembangkan dalam ibadah puasa seakan metamorfosis kupu-kupu, puasa mendidiknya kesadaran, kedisiplinan dan keteraturan bersama semesta. Ia tidak merasa takut dengan hidup sederhana dan ekonomis yang dijalaninya selama bulan puasa yang akan berpengaruh dalam bulan-bulan berikutnya. terlihat pada bulan-bulan berikutnya seseorang diterima puasanya, dan diampuni dosanya itu adalah dengan belajar dari kesalahan, yaitu tidak mengulangi kesalahan yang sama dimasa lalu, ia tidak berniat untuk bermaksiat sekaligus merencanakan taubat.

Kesadaran terhadap kewajibannya itu juga membuat seorang muslim yang berpuasa akan menghindari dari kebiasaan menyatakan hal-hal buruk dan sia-sia apalagi pertengkaran karena menurutnya akan mengurangi derajat kedekatan dan kekhusyukannya dengan Tuhan. Momentum bulan puasa disemarakan dengan menahan diri dari perbuatan tersebut ia tengah berada dalam kondisi yang kontemplatif seakan penyendirian ruhaniyah menjemput Wajah-Nya, ia sedang mencicipi manisnya dahaga yang akan digantikan dengan sungai-sungai surga (QS. Ali Imran (3): 15) dan ia pun sedang mendaki marhalah kediriannya menuju puncak ketaqwaan (QS. Al-Hujurat (49):13). Inilah corak morfologis yang berlainan dari ekspresi psikologis dalam ayat yang memerintahkan puasa yaitu 183-188, karena itu, untuk memperoleh realitas yang utuh kita akan mencoba mengambil pengalaman-pengalaman dalam substansi ayat-ayat tersebut.

“Wahai Orang-orang yang beriman, dicatatkan atasmu berpuasa seperti diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”(QS.Al-Baqarah (2):183).

Panggilan Allah dari jauh melalui proses transmisi dalam perintah puasa, memberikan isyarat tentang kondisi komunitas muslim yang masih harus ditempa hatinya dan dikuatkan jiwanya untuk menghadapi kafir-Quraisy agar mampu menyelamatkan saudara-saudaranya yang tertinggal di Mekkah karena sejarah menuliskan bahwa perintah puasa diwarnai ketegangan antara Madinah dan Kafir Quraisy pasca-hijrah yang membuat komunitas muslim tidak mampu bertindak bebas ke luar Madinah, mereka terkungkung dengan konflik yang sewaktu-waktu akan meledak. Maka, dengan berpuasa Komunitas Muslim diajarkan untuk bersikap waspada, tenang dan saling menjaga satu sama lain. Namun disisi lain kita melihat adanya situasi psikologis yang dihadapi oleh orang muslim, selama ini mereka melihat kebebasan bergerak orang Quraisy-Mekkah adalah bukti dari perwujudan eksistensinya namun pada dasarnya mereka terpasung dalam dunia yang mereka rangkai dan angankan karena memperturutkan keinginan dilukiskan Al-Quran dalam Surat Ali Imran (3): 196: “Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di negeri-negeri”, dewasa ini, orang sering mengira bahwa melakukan korupsi, memperdayai orang dan menggembar-gemborkan kebaikannya, bahkan saat ia tidka melakukannya sama sekali, keadilan terhadap dirinya namun mengesampingkan orang lain. mereka anggap itulah kebebasan. padahal pada hakikatnya adalah ia sedang mengunci kebebasannya dalam nafsunya sendiri. Paling tidak seorang yang melakukan perbuatan tercela tidak bebas dari ketakutan aibnya terbongkar.

Ayat ini merupakan satu-satunya ayat dalam wahyu yang mewajibkan puasa sedangkan pelaksanaannya ditunjukan melalui hadits nabi Muhammad. Ayat puasa ini mendapat perhatian dari para penafsir (Mufasirin) karena keberatan-keberatan filosofis menyangkut pemilihan kata ‘kutiba’ yang menandai bahwa puasa adalah sebuah konsekuensi dari ritme kehidupan, saat harus jeda, bergerak dan mempercepat ketukan nada sehingga akan menghasilkan musik kehidupan yang berharmoni. Dengan relevansi penggunaan kata ’Kutiba’ pada ayat-ayat Jihad (QS 2:216) puasa bukan hanya menjadi bingkai ilahiyah yang meresap ke dalam hati seorang Muslim tapi lebih dari itu puasa akan memberikan kekuatan tekad untuk berjihad dan kata ‘kutiba’ dalam ayat mengenai hukum syari’at (QS.2:178). Saya kira tiga ayat yang memiliki watak yang sama ini mengandaikan kedudukannya yang setingkat dan saling melengkapi sehingga aspek-aspek puasa, Jihad dan tegaknya Syari’at terintegrasi dalam konteks wahyu, dengan demikian seorang yang mengaku dirinya berpuasa meyakini bahwa puasanya sia-sia tanpa berjihad menegakkan kalimatullah di muka bumi ini.

Puasa menjadi suatu ajaran yang pluralis dalam pandangan ayat (QS. 2:183), karena puasa tidak dimiliki Islam saja namun juga dimiliki oleh agama-agama sebelumnya, sekaligus menegaskan bahwa Islam merupakan bagian dari sejarah perjuangan Ibrahim dan peradaban-peradaban di masa lalu sebagai suatu kelanjutan yang menyejarah. Maka berpuasa seharusnya menjadi titik pluralisasi pemikiran keberagamaan yang proporsional dengan menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam Islam, menjaga hak-hak seluruh manusia dan memberikan pembelaan pada kaum mustadl’afin yang disimbolisasikan dengan budak pada masa permulaan kenabian dan sebagian kaum Muslimin yang tertinggal di Makkah.

Disamping itu, melalui puasa seorang muslim diajarkan untuk menghancurkan seribu berhala dalam hatinya mengikuti cara-cara Ibrahim menghancurkan tuhan-tuhan di rumah ibadah kaumnya, ia pun menjinakkan kemunafikan dan keserakahan dalam diri karena jika muslim menyadari kehadiran Allah seharusnya ia dapat menahan kebutuhan-kebutuhannya dalam waktu setengah hari dengan demikian membangun ketahanan mentalitas ketaqwaan inilah nilai yang ingin ditekankan puasa yakni berupa sikap merasakan kehadiran Allah dan tetap merasa diawasi Allah dalam setiap keadaan. penghalang manusia dari Allah itu adalah sikap-sikap tidak terpuji, kemunafikan dan keserakahan perbuatan curang dan mementingkan golongan. isyarat adanya puasa dalam setiap agama menandai bahwa seharusnya menjadi koordinat kesepahaman dan pernghormatan terhadap pemikiran keberagamaan dengan menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam Islam, menjaga hak-hak seluruh manusia dan memberikan pembelaan pada kaum mustadl’afin yang disimbolisasikan dengan budak pada masa permulaan kenabian serta sebagian kaum Muslimin yang tertinggal di Makkah, hal itu berarti berpuasa karena Allah, bukan karena kewajaran sebagai orang muslim

Seperti halnya Allah mencatat pergantian malam dan siang ada waktu pertengahan dan waktu-waktu tertentu yang membuat bulan berhenti di tempat pendarnya. Puasa menjadi proses ritual tahunan untuk melakukan transformasi spiritual yang akan memberikan arah dan ideologisasi Al-Qur’an di hati komunitas muslim seperti nampak begitu indah diilustrasikan dalam Al-Qur’an;

“Hari-hari yang terbilang, Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan maka gantilah sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Sedangkan bagi orang-orang yang merasa berat menunaikannya bayarlah fidyah yaitu menjamu orang miskin, maka, barang siapa yang menginginkan kebajikan ia kan memperoleh lebih dari kebajikan yang ia berikan namun berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.(QS.2:184).

Dalam konteks semiotika dan fonologi (ekpresi-bunyi), Ayat ini memindai suatu realitas yang berpola dalam struktur verbal. Keindahannya, akurasi waktu dan kecepatan nada, jeda yang berselang-seling dan berirama ritmis sebagai komunikasi dan signifikansi.  Berbeda dengan ayat sebelumnya ekspresi psikologis yang mengkomposisi ayat diatas cenderung menekankan pada bait ujungnya. Namun, keunikannya adalah ayat sebelumnya tak kehilangan muatan falsafati sehingga pada konteks lain jika ayat ini dihubungkan dengan menggunakan analisis intertekstual (munasabah) dengan ayat sebelum dan setelahnya membahasakan tipologi hukum puasa, Aras penerapannya dan aras ideologis.

Penentuan hari melalui penanggalan (kalender) secara historis merupakan tradisi yang baru dalam peradaban Islam sekaligus membedakan dengan sistem penanggalan dengan agama-agama biblikal sebelumnya, Islam memiliki sistem penanggalan yang berfungsi sebagai kerangka untuk beribadah dengan menjadikan peredaran bulan sebagai cara menentukan waktu, hal ini akan berakibat pada proses ideologisasi karena di Madinah Islam berhadapan dengan kaum Yahudi yang mempunyai cara tersendiri dalam menentukan waktu sehingga melalui ayat ini komunitas muslim mempunyai tipologi yang unik dengan menggunakan penanggalan Hisabiyah.

Proposisi eksepsionis yang mencakup hitungan-hitungan kategoris di ujung ayat ini berfungsi untuk memberi celah dalam mengelaborasi kembali simbol klinis (orang dalam keadaan sakit, pengobatan dan pemulihan), kondisi faktual safar sebagai keadaan perang, perniagaan dan bebas dari keterkungkungan psikologis akibat sekat-sekat geografis yang terganggu oleh orang-orang kafir Quraisy di zamannya. Hal ini tentu saja tidak dapat diabaikan sebagai suatu kesatuan penanda (Qarinah) sehingga pada titik ini juga ayat tersebut mengantarkan analitis ilmiah kita utk mengkaji puasa sebagai objek ilmu pengetahuan dan pengalaman spritual yang berimplikasi pada peningkatan moral prajurit, ketahanan mental, fisik dan psikologis.

Puncak Puasa adalah berdiam diri.

Sebelum Rasulullah menerima wahyu, ia kerap bertahanuts di Gua Hira, apa yang ia jalani persis dengan perbuatan para Nabi sebelumnya terutama Ibrahim. pada Bulan Ramadlan prilaku ini kemudian diinstitusikan dalam proses “i’tikaf” (berdiam diri), selama 10 hari terakhir. tidak banyak yang mengetahui bahwa meskipun sunnah “berdiam diri pada malam sepuluh terakhir ini” merupakan puncak dari ibadah puasa, paling tidak muslim pernah melakukannya untuk mendapatkan isyarat Allah, ilmu laduni  dan pancaran yang lebih dari 1000 bulan yang tidak menyilaukan mata, artinya dalam proses ini disebut dengan makna yang terdengar tanpa suara dan terlihat tanpa lukisan, atau saya menyebutnya Kalam Kesemestaan.

Berdiam diri di Mesjid pada sepuluh hari terakhir, merupakan pemusatan diri pada hadirat Allah, prilaku ini dikenal dengan laku asketisme,menjauhkan diri dari dunia, dalam batas waktu tertentu, karena Islam sama sekali tidak mengenal kerahiban. Amalan-amalannya pun hanya berkisar dengan tema-tema ibadah yang didominasi dengan mengingat-Nya dan mawas diri, merendahkan diri di hadapan Allah dan mengagungkan Allah, tidak berbicara dengan makhluk dan bahkan hanya keluar dari mesjid sesuai kebutuhan saja. Dalam istilah Jawa: “urip iku gur mampir ngombe”  (hidup itu hanya mampir minum).

 

Hikmah Nuzul Al-Qur’an

Dalam konteks pemikiran Al-Qur’an, pada bulan Ramadlan Allah menurunkan ayat-Nya secara dialogis melalui perantaraan Jibril. Peristiwa ini menandai awal yang baru dalam sejarah dan menutup kelamnya kehidupan di masa lalu serta memberi kesempatan pada manusia untuk membangun peradabannya kembali setelah sekian lama meninggalkan-Nya. Mari kita simak ayat berikut ini;

”Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS. Al-Baqarah (2):185).

Penyebutan bulan Ramadlan sebagai ketetapan waktu bukan hanya menandai proses-proses mistis berkaitan dengan revelasi dialogis Al-Qur’an pada bulan tersebut namun mempunyai signifikansi yang mengarah pada relasi dialektis dalam peradaban dan sejarah manusia. Penekanan kriteria situasional yang wajar seperti sakit, bepergian, hamil dan udzur berfungsi untuk menstimulasi paradigma agar dapat memahami tipologi masyarakat Islam yang produktif, berjihad, berhenti saat sakit dan tanggungjawab kolektif untuk menjaga syariat dikoridor ilahiyah dengan menjamin sanksi sosial yang dikenakan pada orang yang merasa berat untuk berpuasa bahkan menanggung pembayaran fidyah jika ternyata orang yang berat melaksanakn puasa adalah orang yang paling berhak (Mustahik) sehingga wajar kiranya persepsi kita diantarkan untuk mengandaikan keindahan hidup Islami dengan kesigapan paradigma saat kepala memindai makna, ketundukan tanpa lelah saat sujud menembus ruang mistis, sosial-ekonomi dan pembinaan ideologi saat kaki terpancang tegas membumi di waktu malam sedangkan pada siang hari mereka melakukan aktivitas seperti biasa seakan tanpa lelah dan tanpa peduli dengan kondisinya yang berpuasa.

Kita akan membuka realitas tersebut dan membawa nalar kita ke alam pikiran wahyu melalui Surat Al-Qadr yang menggambarkan secara naratif proses tersebut dan kita pun seakan diajak ke masa lalu dan mengjangkau alam metafisik;

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan, Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?, Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan, Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan, Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (QS. Al-Qadr (97):1-5)

Surat ini menginformasikan kepada kita tentang proses penurunan ayat Al-Qur’an yang terjadi pada Nabi Muhammad Saw, di suatu malam yang penuh kemulyaan dan tak mampu terjangkau rasio manusia karena bagaimana bisa langit tidak retak saat malaikat-malaikat turun dari langit ke tujuh menuju bait-Izzah di langit pertama dengan membawa panji dan bertasbih kepada Allah bahkan Rasulullah menggambarkan”langit begitu sempit ketika itu”, dan langit tidak gemetar saat dibacakannya urusan-urusan terbesar di sisi-Nya.

Muslim menyadari bahwa mengagungkan bulan Ramadlan bukanlah inti dari pesan Allah tersebut, namun peristiwa tanzil tersebut akan membebaskan dari pikiran-pikirannya yang dahulu disandarkan pada mitos yang sifatnya sektoral dan etnografis, digantikan dengan lekstur Al-Qur’an yang menjadi poros pembentuk sub-kesadaran dan alam bawah sadar pemikiran muslim karena itu menjadi lumrah kiranya jika kita mengakui bahwa memang terdapat kondisi yang berbeda dengan kelaziman prilaku komunitas Muslim dibanding dengan bulan-bulan selain ramadhan karena saat malam hari mereka melakukan tirakat melalui i’tikaf di sepuluh malam terakhir, bergaul dengan istrinya di waktu dan tempat yang sepantasnya serta menyerahkan seluruh waktunya untuk beribadah tanpa henti (QS. Al-baqarah: 187) seperti meresapi kondisi Muhammad yang menerima wahyu pertama kali, ia tidak hanya melakukan shalat malam yang sering ia lakukan diluar Ramadhan namun bulan ini nuansa kedekatan kepada Tuhan begitu terasa lebih signifikan (QS. Al-Baqarah (2):186) sehingga ia menambah dengan lantunan bacaan yang menembus sudut-sudut hati, mengobati kerinduannya akan Rabb yang menguasai hatinya, berwudlu dengan air matanya agar mampu mendekatkan dirinya pada Allah dengan penuh Khusyuk dan tawadlu (QS. Al-Muzammil (73):2-5) serta membuka hijab menuju cakrawala ilahiyah yang mencerahkan hingga ke relung hati dan paradigma, Puasa berarti mentransendensikan diri dan meliberasikan ummat.

Mereka pun memohon ampunan pada Allah di waktu sahur (QS. Ali Imran (3):17), bertasbih diwaktu subuh (QS. Ar-Ruum (30):17), melakukan aktivitas ekonomi dan produksi di siang hari (QS. Al-Muzammil (73):7) bertasbih di waktu senja (QS. Al-Kahfi (18):28) dan berbuka seakan menyantap Al-Maidah (hidangan dari Langit) yang diturunkan pada Siti Maryam, bagi komunitas Muslim itulah yang membedakan puasa dengan hari-hari lainnya Allah memberi kita kesempatan untuk merasakan kenikmatan yang beliau rasakan. Maka, menjaga puasa seperti beliau menjaga kesuciannya akan melahirkan bahasa kalbu yang menentramkan dan mencerahkan hati.

Ayat-ayat puasa terletak antara ayat-ayat Wasiat dan Haji mengasumsikan relasi kontekstual dengan ayat 188 serta menyiratkan bahwa sebelum haji dilakukan hendaknya membereskan segala hal yang akan memberatkan termasuk urusan waris, hutang dan pembagian rampasan. sehingga tidak ada alasan-alasan yang digunakan untuk saling merampas harta meskipun pada realitas sejarah ayat ini memberikan kenyataan bahwa komunitas muslim dalam kondisi yang sulit selepas mereka hijrah meniggalkan harta kekayaan di Mekkah dan mereka dalam kondisi yang tertatih-tatih melakukan aktivitas ekonomi, perintah puasa dalam konteks ini menjadi strategi untuk hidup dengan cara-cara yang ekonomis dan sistem ketahanan pangan. Disinilah, Permulaan proses penerapan hukum dan aturan-aturan masyarakat Islam, membangun tipologinya sebagai konsep relasi sosial, ketahanan pangan, kehidupan yang ekonomis, ketahanan mental yang jika dikaitkan dengan Jihad dan penerapan hukum syariat.

Puasa sebagai bagian Integral tipologi Islam

Keterkaitan ibadah puasa dengan ibadah lainnya dalam masyarakt Islam secara tematis akan nampak sebagai berikut;

Pertama, Syahadat adalah sebuah perwujudan sumpah (Itsbat) dalam hubungan manusia secara personal dengan Tuhan sekaligus mendelegitimasi kekuasaan yang diimani selain Allah (Nafyu) sedangkan penegasan yang kedua kepada nabi Muhammad adalah merupakan sumpah setia terhadap Rasulullah dan mengikrarkan kewajiban untuk membela Islam, hubungan dengan puasa dilihat dari sisi Syahadat sangatlah transenden karena puasa memiliki kekuatan untuk memperbaharui spiritualitas dan menatanya hingga mencapai marhalah ketaqwaan dan loyalitas politik terhadap Islam;

Kedua, Shalat memperkenalkan konskripsi, memiliki disiplin militer dan keteraturan dihadapan Allah maka puasa juga dapat diartikan dengan penyeimbangan gizi atau pengaturan pola konsumsi melalui peran institusi negara dan sebuah pembinaan moral prajurit untuk siap menghadapi berbagai kemungkinan hingga kemungkinan terburuk sekalipun;

Ketiga, Relevansi puasa dengan Zakat adalah merupakan penyadaran terhadap posisi muslim sebagai manusia dan kewajiban sosialnya sebagai bagian integral dari masyarakat muslim di dunia (Ummah); dan

Keempat, Hubungan puasa dengan haji adalah penciptaan kerangka, konsep, Tashawwur dan pandangan dunia Islam untuk memperbaiki masalah-masalah dunia Islam dan muslim, modernisasi, mengkonsolidasikan gerakan Islam secara internasional dan melembagakan wacana dan nilai-nilai universal Islam di seluruh penjuru dunia.

Demikianlah hubungan puasa dengan Agama-agama, relevansi dengan tatanan Islam secara teologis, sosial dan politikdengan memberikan tashawwur, konsep, pandangan dalam kerangka membangun peradaban Islam dan modernisasi, menciptakan lingkungan intelektual, membangun bangsa yang berakhlaq luhur (Ahlaq Karima), menempa pemuda Islam agar dapat membela Islam (Jihad), konskripsi, membina kesatuan dibawah keagungan Islam (Ukhuwah Islamiyah), menjaga spiritualitas dan senantiasa memberi arah untuk kemajuan teknologi dan perkembangan zaman karena menterjemahkan Al-qur’an dalam konteks zaman merupakan upaya untuk memperkaya khazanah pemikiran Islam dan membumikan nilai-nilai Islam dalam tatanan kehidupan.

Wa Allahu a’lam bish shawab 

Mengalami Haji; Perjalanan Meraih Kesadaran Transendental

”Tidak ada yang dapat saya katakan tentang haji selain sebuah perjalanan dalam nuansa mu’jizat antar miqat menuju pembebasan eksistensinya yang mencerahkan bagi mereka yang menyaksikannya karena dengan berhaji muslim diantarkan pada suatu realitas bahwa hajinya merupakan proses dramaturgis perjalanan Ibrahim namun yang membuatnya bernilai adalah memaknai kehidupan setelah berhaji sebagai keadaan berpakaian kain kafan di tubuhnya yang dilakukan dari waktu menuju ruang, dari miqat ke maqam para Nabi, paradigma hushuli menuju hikmah hudluri, hingga perjalanannya bersama Tuhan menjadikannya imam untuk saudaranya menuju penyatuan pengetahuan dan kehendak dengan Tuhan”. (Al-Haj Rihlat bayna mawaqith ilaa Al-Isyraq : Catatan Kiblat, 28 Nov 2009).

Tahun ini seorang kawan berangkat haji, ia melihat saya dari kejauhan dengan senyum yang tak biasa, menyalami dengan wajahnya yang cerah, ada sebuah keyakinan akan sesuatu yang menantinya di baitullah. Ia berkata sambil tersenyum: “ Mas, insya Allah saya berangkat haji tahun ini. Saya pun tersenyum bangga padanya karena di usianya yang lebih muda dari saya ia telah berazzam untuk memenuhi undangan dari Allah, menyempurnakan rukun Islam. Berbeda dengan anak muda lainnya yang memiliki kelebihan rezeki mungkin tak ingat dengan tamasya spiritual yang satu ini.

 Begitulah suasana hati saya seperti sebuah pepatah bahwa melihat seorang teman tertawa kita ikut tertawa meskipun tidak paham alasan mengapa harus tertawa yang penting tertawa bersama-sama karena melihat kawannya senang. Begitupun saat kawannya menangis ia pun menangis tanpa alasan yang jelas begitulah kebersamaan, tradisi Islam mengatakan bahwa muslim itu satu tubuh tapi saat ini kita menjadi orang fasik dan membiarkan saudara-saudara kita dibantai maka wajar kiranya jika Allah mengazab akibat hilangnya ruh jihad dan padamnya semangat Al-wala wal Baraa di hati kaum muslim.

”Sebelum berhaji menjadi kewajaran untuk menyelesaikan semua yang berhubungan dengan hak-hak manusia termasuk berpamitan, meminta maaf pada teman-teman, barangkali ada yang tertinggal karena ketika di baitullah nanti Allah menjadi tujuan”. Ia tersenyum mencoba mencerna perkataan saya yang tiba-tiba saja terucapkan. Ia pun bercerita bahwa skripsinya di-ACC oleh dosen pembimbingnya tanpa harus menempuh revisi lagi, di mimbar diskusi kami, seorang kawan lain, Kahfi Salim berkata padanya:”nanti kalau sudah berhaji, jangan mau disebut bu haji, ya. Ia pun menimpali:” iya, mas ada beban juga untuk lebih baik, ujarnya mantap. Setelah itu ia pun beranjak, namun sebelum ia berlalu dari hadapan kami saya meminta di doakan di baitullah:”Mari, (panggilan saya padanya), do’akan saya, ya biar memahami Al-qur’an. Ia pun berkata; ”insya Allah, Mas”, ujarnya bergegas.

Haji adalah ritual muslim yang kelima untuk menggenapi aspek spritual yang saling berhubungan secara psikologis dan fisik bahkan finansial. Berhaji bagi muslim tidak hanya menimbulkan pengalaman spiritual namun juga merasakan kedekatan terhadap situs-situs sejarah agamanya dan membangkitkan ingatan pada seluruh perjuangan nabi-nabi biblikal, ka’bah dan Muhammad. Karena itu, haji mengantarkan pengalaman seorang muslim untuk hidup dalam nilai kemanusiaan universal dan mendekatkan diri kepada-Nya. Makna-makna tersebut dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji, dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan non ritualnya, dalam bentuk aturan-aturan etis, nyata atau simbol yang mereka laksanakan selama beribadah haji.

Berbicara haji berarti secara khusus mengantarkan pikiran kita kembali kepada perjalanan Ibrahim (Imam (QS.2:124); bapak Agama-agama biblikal dan Islam) karena seluruh syiar haji berasal darinya seakan Al-qur’an mengantarkan kita untuk meneladani kesabaran dan kepribadiannya (QS.60:4). Maka dari itu, sejenak kita akan mengulas beberapa peristiwa yang dilantunkan  wahyu agar hidup dalam sejarah dan diperingati terus-menerus dari masa ke masa sebagai pelajaran dan hikmah yang membuktikan relevansi teologis agama-agama biblikal dengan Islam (QS 3:64).karena itu Islam merupakan air yang membasuh dan mensucikan seluruh agama di dunia.

Sejarah mencatat kehidupan Ibrahim lahir di Faddam A’ram tahun 2013 SM, salah satu kota kuno di Babylonia yang dikuasai Raja Nimrodz. Saat belia ia mulai membuka ruang dialog rasional dengan Azzar (Tarih) yaitu seorang Cendikiawan dan pendeta pembuat berhala (QS.6;74), melakukan dialektika terbuka dengan kaumnya (QS.2:258, 43:26-30), mendekonstruksi paradigma ketuhanan dengan menghancurkan tuhan-tuhan, nilai-nilai, ide-ide, isme-isme, tradisi yang absurd (QS.21:58) sebagai konstruk masyarakat mitos dan raja Nimrodz sebagai Dewa (dewa Bacchus: pemburu), bagian dari dewa-dewa kuno yang dilanggengkan melalui lekstur agama pagan (QS.37:83-96), Dibakar oleh kaumnya karena tidak mau tunduk pada tuhan-tuhan antroposentris (QS.37:97), merasa tersesat dalam pencarian Tuhan (QS. 6: 75-79) hingga akhirnya Tuhan sendiri hadir dan beremanasi (Hudluriyat Al-wujud) di bukit Thin (QS. 95:1) berwujud pancaran cahaya yang menyilaukan pandangan (Al-Isyraq), ia pun meninggalkan keluarganya di kota Makkah kuno (QS. 14;37), menyembelih Ismail untuk memenuhi perintah-Nya (QS.37:102) dan menggenapi ramalan Biblikal serta penyatuan pengetahuan ilahiyah dengannya (QS.2: 260).

Melalui cara-cara menghubungkan realitas historis Ibrahim dan haji setidaknya muslim dibukakan hatinya untuk mengikuti perjalanan ibrahim (Rihlat bayna Mawaqith ilaa Isyraq) diatas dan menghimpunnya dalam konstruk pemikiran Qur’ani, monotheisme (Tauhid), Humanisme theosentris, sejarah dan spritualitas yang berhubungan erat dengan tujuan muslim berhaji, karena. secara etis seharusnya muslim yang berhaji sudah terlepas dari beban-beban materi bahkan tujuan untuk meninggal dalam keadaan berhaji hendaknya dihindari. Karena menjadi haji berarti membebaskan diri dari kenyataan personal dan individual serta menggantikannya dengan tujuan yang bersifat sosial dan berkembang.

Tanda pelaksanaan Haji adalah bulan yang telah dikenali (QS.2:197), muslim menunggunya dan berharap ia masih bernafas saat bulan Syawal, dzulqaidah dan dzulhijjah menghampirinya dan bersedih jika tahun ini gagal berangkat ke tanah suci karena sebab-sebab tertentu. Bulan-bulan haram tersebut dan peristiwa yang meimpanya sebelum berangkat berhaji secara aksiomatis menyadarkanya bahwa ia hidup dalam ruang (miqat Makani) dan waktu (miqat zamani), disadarkan hatinya untuk terus belajar menata diri, mempunyai kode-kode kehidupan, integrasi dengan masyarakat muslim di dunia sehingga dalam konteks ini haji memiliki nilai yang tak hanya bersifat spiritual namun juga memiliki aspek sosial dan universal karena melibatkan seluruh masyarakat muslim yang merefresentasikan keberadaan, masalah-masalah yang menimpa muslim di setiap negaranya, isu-isu internasional dan ekonomi dunia Islam (QS.2;198) karena setelah selesai berhaji komunitas muslim diperkenankan untuk mengurusi hal-hal tersebut.

Penuh keharuan yang menyesaki rongga dadanya, muslim mengumandangkan Talbiyah ”labaik Allahumma Labaik” (Kami memenuhi panggilanmu, wahai Allah, Kami penuhi panggilanmu), pernyataan ini bukanlah izin memasuki wilayah atau tempat tertentu karena bagi muslim, Allah telah mengetahui kedatangannya bahkan niatnya berhaji, sehingga ucapan kedatangannya berbeda dengan seorang yang bertamu untuk memenuhi resepsi atau event khusus karena saat ia menyaksikan ka’bah dari atas pesawat yang membawanya, ia diingatkan kepada Jibril yang tengah menentukan koordinat pendirian ka’bah (QS.3:96), pada saat ia berdiri memandang baitullah dari jauh ia merasakan saat Ibrahim dan Ismail berdiri dan membangun ka’bah (QS.2:125-127) dan ketika ia melakukan manasik haji seakan Muhammad berada bersamanya (QS.2:158). Keindahan seperti ini dapat dirasakan dari jauh oleh orang yang mengantar saudaranya berhaji sementara signifikansi dan makna syiar-syiar haji hanya dapat dirasakan saat tiba di baitullah.

Pernyataan ”Labaik Allahumma hajjan wa umratan” (Aku datang memenuhi panggilanmu wahai Allah, untuk berhaji dan berumrah) nampak seperti seorang yang telah lama meninggalkan kampung halamannya, namun selama ia berada di perjalanan ia senantiasa teringat perkataan seorang yang sangat ia hormati untuk mampir sejenak di suatu tempat sekedar merenung tentang para pendahulunya yaitu mereka yang pernah gugur di setiap langkah tempat itu, mencium kembali keringat dan darah yang tertumpah sepanjang jejak yang ia tempuh dalam hajinya karena itu pernyataan ini berarti i’tikad melepaskan atribut-atribut yang melekat sehingga perjalanan haji adalah perjalanan dalam ruang (QS. 22:27) dan waktu (QS.3:97) menuju realitas yang tak tersentuh ruang dan waktu itu sendiri.

Kedatangan muslim digambarkan Al-qur’an dengan indah dan santun; ”dan Izinkanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”. (QS.22:27). Struktur tulisan ayat ini terletak pada bait kedua yang membahas tema haji setelah sebelumnya Al-qur’an membahas tema yang berhubungan dengan aspek eskatologis dan kecenderungan orang kafir yang berusaha menghalangi muslim yang hendak berjihad dan berhaji sementara substansinya memuat kondisi perjalanan orang-orang berhaji (rijalan), namun peristiwa yang terjadi selama perjalanan dikesampingkan ayat ini seakan muslim di sepanjang perjalanannya merasakan baitullah di benaknya dan perjalanan yang tenang dalam menempuh haji tanpa beban memikirkan keluarga di rumahnya.

Saat seseorang mulai melantunkan ayat ini nampaknya ’tanda bacanya’ menahannya melanjutkan bacaan agar meresap ke dalam hati dan pikirannya secara lebih signifikan. Dengan tilawahnya ia diantarkan pada realitas sinkronik-metaforistis dan dengan membaca perlahan tanpa terputus satu ayat ini menandai keindahan substansial yang berpendar disetiap lintasan barisnya karena kalimat ’mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh’ adalah realitas yang tak wajar pada kondisi sejarah maupun situasi yang kita hadapi saat ini namun kita bisa membayangkan jika tanpa ada perangkat transportasi modern karena itu seorang berhaji ia diibaratkan diperjalanannya memerah keringat unta hingga kurus serta bersusah payah mengumpulkan uang bahkan berhutang untuk membiayainya ke tanah suci.

Seperti halnya Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala kuil Ba’al di Fadam ’Aram dan Muhammad yang membunuh semua berhala di Makkah (QS.2:125), muslim juga meleburkan status sosialnya, jabatan dan atribut keningratan saat ia memasuki Masjidil haram (QS.14;35-36) berbeda dengan shalat yang ruang lingkupnya masyarakat dan negara, kali ini ia berada di tengah masyarakat dunia yang berdesak-desakan, beradu keringat dan kesabaran serta ia pun memahami tipologi Islam yang egaliter dan terbuka tanpa sekat primordial, budaya dan kebangsaan karena itu pada waktu haji mereka bertukar pendapat tentang syariat di negaranya, saling memahami budaya dan berbagi pengalaman spiritual serta gurauan ringan khas negara masing-masing setelah tiba di penginapan atau waktu di meja makan.

Ketika berhaji dan dalam setiap waktunya muslim mengenakan pakaian putih (ihram), dari sebuah miqat menuju miqat lainnya, dari syiar haji hingga tahapan-tahapan lainnya, ia hidup dengan kehati-hatian saat melangkah karena pakaian ihram yang dikenakannya menjadi simbol bahwa ia sedang mengenakan pakaian yang sebenarnya yaitu kesucian, kefanaan dan kenisbian serta kesiapan menerima kematian, tidak berhenti disitu pakaian ihram pun akan menjadi pakaian yang seharusnya dapat berpengaruh selepas menunaikan haji karena ia telah mendapati berada dalam perjalanan yang mengisyaratkan hakikat dari kehormatan dirinya karena itu ia menjaga batas-batas etis selama berhaji (QS.2:197; 5; 2) dan membayar kafarat dan denda (Dam), jika melanggar ketentuan etis tersebut (QS.2:196) karena itu realitas haji harus menembus ruhnya dan sudut-sudut hatinya sehingga yang berjalan dalam berhaji adalah ruh yang berdzikir dan disinari wajah-Nya serta keagungan-Nya.

Bagi muslim saat ia menempatkan dirinya di miqat untuk melakukan thawaf (QS.22:26) yang ditentukan tradisi muslim (Miqat Makany), akan menjadi pengalaman tersendiri karena ia akan bergabung dalam gemuruh lautan manusia, berdesakan berharap di putaran pertamanya menjadi setahap mendekati hajar aswad, di putaran yang kedua lebih dekat dengan hajar aswad, di putaran yang ketiga ia telah menghadapi hajar aswad dan di putaran keempat menciumnya sesuai tradisi Islam, dan putaran kelima hingga tujuh ia tengah menjauh kembali ke miqatnya. Ia menyadari tidak boleh mementingkan dirinya sendiri maka ia mempersilahkan saudaranya mencapai Hajar Aswad serta memperkenankannya terlebih dahulu menciumnya jika saudaranya lebih berpeluang, karena mencium hajar aswad bukanlah tujuan bahkan Umar sempat mengatakan jika Nabi tak memerintahkan maka ia tak akan mencium hajar aswad.

Muslim memahami bahwa berthawaf pernah dilakukan orang-orang Pagan Hijaz di masa lalu tanpa pakaian dan cara-cara yang merendahkan martabatnya, ia bersyukur dalam hatinya dengan kenabian Muhammad yang telah mensucikan tradisi Islam yang satu ini, mengubahnya dengan tata cara yang santun karena pada saat yang sama tidak hanya ia yang berthawaf mengikuti perintah-Nya dan pada saat ia menerawang jauh ke lazuardi, hatinya dihentakan pada kenyataan bahwa saat ia berthawaf di lintasannya, matahari dan bulan mengelilingi garis edarnya (QS. 36: 40), bintang-bintang berputar dalam porosnya, beredar dan terbenam (QS.15-16), langit yang tujuh berthawaf kepada Allah sebagai tasbihnya (QS.17: 44) dan benda-benda lainnya di setiap lapisan langit sesuai ketetapan-Nya (QS.41:12). Berthawaf baginya upaya sederhana untuk mengkonstitusikan kesadaran dalam hatinya bahwa ia hanya salah satu dari berjuta manusia, beserta sejarah dan bermiliar bintang yang bertasbih, menjauh, berputar, melingkar dan kembali kepada-Nya di bawah Arasy, keberadaannya tak berharga tanpa bersujud pada-Nya.

Matahari terbit tanda waktu keberangkatan mereka menuju kota Mina, selama perjalanan mereka mengumandangkan talbiyah, bergemuruh seperti lebah yang bertasbih kepada Allah dengan kepakan sayapnya saat ia membangun sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia (QS. 16:68). Mereka melewati situs-situs sejarah yang akan membangunkan paradigmanya untuk mengingat seluruh sejarahnya sebagai suatu reaksi psikologis ia akan mengaitkan situs-situs tersebut secara diakronis dengan kejadian-kejadian di masa lalu.

Hari menjelang malam ia berkemah atau sekarang mungkin terdapat penginapan di daerah Mina yang memungkinkan ia lebih leluasa untuk melaksanakan Mabit (menginap). Kelelahan yang menimpa dirinya terbayar sudah, ia mengingat perjuangan para Ahlul Badr yang diberikan kenikmatan mengantuk dan tertidur untuk membuatnya merasa tentram (QS.8:11). Pada kondisi demikian, ia diajarkan untuk memejamkan matanya dan membuka hatinya meneladani Nabinya yang berdzikir dalam setiap keadaan sehingga diteguhkan hatinya dan pendiriannya serta dijauhkan dari pikiran-pikiran najis yang memperkeruh ruhnya. Ia meminta ampun kepada Tuhannya dengan penuh kesungguhan hati.

Arafah menjadi saksi ketika ia bercermin ke dalam hatinya karena ia tak akan terlihat jika dibandingkan semesta dan jiwanya pun bersujud berserta makhluk-Nya yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia (QS.22:18) serta malaikat-malaikatnya yang disucikan dari dosa (QS.7:206) karena ia meyakini bahwa itulah ayat-ayat yang menunjukan wujud-Nya sebagai tanda keimanan yang menembus hingga ke relung paradigma dan hatinya (QS.32:15). Maka, ia pun berhenti dan menelusuri lintasan-lintasan pikiran, keluarganya di rumah dan seluruh manusia seakan Ibrahim yang mencari Tuhan untuk kaumnya bergitu juga muslim yang berhaji ia memikirkan tentang apa yang akan ia bawa setelah pulang, hatinya dipenuhi keharuan, kesyahduan dan ketawadluan pada-Nya karena ia berada dalam sebuah ruang eksistensialisme yang transenden.

Di masa lalu seorang ibu yang sedang memangku anaknya didatangi oleh orang yang tak dikenal seakan seorang istri yang ditinggalkan oleh suaminya dalam pelayaran ia pun dibujuk dengan berbagai rayuan. Namun ia tak bergeming dan melawannya dengan batu-batu yang berserakan di depannya. Ia adalah Hajar, Istri Ibrahim yang setia dan menjaga harga dirinya serta menjadi pendukung setia di dalam penghambaan kepada Allah, ia bahkan tidak menangis tatkala ditinggalkan di Makkah Kuno oleh suaminya tapi ia hanya bertanya alasan suaminya dan pada saat Ibrahim menyatakan semuanya adalah rencana Allah ia pun menghentikan pertanyaannya dan bersabar karena Allah akan menjaganya.

Peristiwa lemparan batu yang di lakukan Hajar tersebut kini diikuti oleh muslim yang tengah berhaji dan dikenal dengan jumrah aqabah hitungannya sesesuai dengan tradisi Islam yang disampaikan Nabinya, ia tak gentar seperti Hajar, ia tak mengeluh dan bersedih hati. Melempar jumrah menurut Ali Syari’ati adalah realitas sejarah untuk menjauhi mitos, persengketaan dan permusuhan serta ia menyatakan bahwa musuhnya adalah segala kekuasaan yang sekular. Hatinya kini menjadi lega karena telah mengenal kepalsuan yang ternyata menjadi sahabat, kekasih dan pembela yang harus diwaspadai serta dibongkar topeng-topeng kemunafikannya.

Melalui lemparan jumrah ia senyatanya tengah berperang secara simbolis dengan keinginan-keinginan picik dan pikiran-pikiran najis namun sebaliknya terbersit tekad yang kuat untuk berjihad melebihi kepentingannya sendiri, ia akan memerangi mereka yang menghalangi Islam dengan cara yang bijak mengikuti Nabinya saat beradu retorika dan argumentasi dengan Non-Muslim dan mengayunkan pedang kepada orang yang memusuhi agama dan membantai saudara-saudaranya.

Muhammad pun melakukan purifikasi terhadap Sa’i (berlari kecil antara Shafa dan Marwah) seperti ibunda Hajar pernah lakukan (QS.2:158) tatkala Ismail kecil kehausan, ia lantas berlari-lari kecil, sambil terus menengok anaknya yang tengah menangis mengharapkan ada orang yang melewati kawasan tersebut, demikian berulang-ulang hingga Allah menunjukan kekuasaanya dengan menganugerahkan zam-zam di kaki Ismail tanpa harus berharap pada musafir yang ia sendiri menduga nyaris tak mungkin melewati kawasan gersang tersebut.

Pemilihan lokasi, setting waktu dan gerakan –gerakan yang diritualisasi dalam ritual sa’i bukan hanya memuat pesan- pesan historis dan kesan-kesan fenomenologis namun memiliki nilai-nlai falsafati yang membuktikan garis berkesinambungan yang menyejarah baik untuk muslim berhaji dan agama-agama biblikal sehingga kita boleh menduga bahwa pada aras teologis islam yang mempurifikasi agama-agama seperti zam-zam yang mensucikan dan menyelamatkan Ismail sementara bagi muslim yang berhaji menjadi kenyataan untuk memaknainya sebagai penghambaan yang membebaskannya dari anasir-anasir kewalian lain selain Allah.

Pada waktu berkurban ia menyembelih kebodohan dalam dirinya, mendekonstruksi paradigma ketuhanan dengan menghancurkan tuhan-tuhan antroposentris, nilai-nilai, ide-ide, isme-isme, tradisi yang absurd, simbol-simbol yang menjauhkan dirinya dengan Tuhan dan kecenderungan emosi kita. Karena pada saat seseorang yang berkurban akan mengingatkan kita untuk bisa membayangkan seorang Ibrahim ketika ia tengah mencari Tuhannya pikiran-pikirannya saling berbenturan sedemikian rupa dan setelah lama tak bertemu ia akan menyembelih Ismail putra sulungnya dengan tangannya sendiri, pasti saat itu ia merasa berada di ambang kematian. Al-Qur’an menarasikan peristiwa qurban dengan indah;

”Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh kemudian Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya Kami panggil dia: “Hai Ibrahim sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.”(QS. 37: 100-106).

 

Ketika kita membaca ayat ini atau memperhatikan substansi teks yang dipilih untuk memenuhi struktur skriptural yang meloncati sejarah saat Al-qur’an turun di zamannya (riwayat tanzil), menimbulkan kesan dramatis, kita bisa melihat dari dekat seorang Ibrahim yang tengah senja meminta kepada-Nya seorang anak, namun saat mulai dewasa ia diganggui oleh mimpi-mimpi yang membuatnya ingin mengakhiri hidupnya, ia melihat dirinya tengah menyembelih Ismail anak yang ia nantikan akan menjadi perhiasan di masa tuanya. Kita pun melihat seakan menyaksikan kedekatan ayah dan anak, komunikasi yang signifikan telah lama dibangun diantara keduanya, bahkan dalam suatu riwayat dalam Khulashat tafsir Ibnu Katsir, Ibrahim sempat mendiskusinya kepada Hajar dan istrinya mengatakan keikhlasannya ihwal pengorbanan Ismail.

Hatinya mantap setelah istrinya menyatakan demikian, kini ia akan membuka dialog dengan Ismail dan tibalah saatnya Ibrahim menghunus pedangnya, ia membaringkan anaknya di pelipisnya berharap akan lebih mudah menetralisir beban psikologis di hatinya dan mulai menutup matanya berharap hal ini cepat berlalu, tanpa diduga Allah memanggilnya dan menghentikan prosesi penyembelihan tersebut, digantikanlah Ismail dengan kibas (binatang sejenis kambing) mereka telah diuji dan membuktikan ketaatannya sebagai ayah, suami, anak dan ibu serta istri seakan Allah yang memilihkan untuknya agar dapat melewati berbagai ujian yang mengubah proyeksi agama-agama dunia.

Pada satu titik, Ilustrasi diatas membuat siapapun yang membacanya meresapi nilai-nilai keharmonisan dalam keluarga yang saling membantu, keikhlasan menjalani tugasnya, menghimpun kefitrahan dalam diri, pengamalan akan nilai-nilai universal dan kemanusiaan. Sementara pada sisi lain, paradigma kita dibukakan oleh Wahyu untuk membayangkan jika Ismail tidak digantikan Allah, berapa juta anak sulung yang dikurbankan tiap tahunnya, nampak sekali bahwa Tuhan sangat menghargai nyawa manusia (QS.17:33), sehingga jika membunuh manusia akan mengalami tindakan serupa dalam Islam yang dikenal dengan Qishash (Hudud) yang bermakna bahwa seseorang telah melewati batas dari yang sewajarnya atau melebihi otoritasnya dengan tidak membiarkan seseorang kehilangan nyawanya secara alami sehingga keluarga korban mempunyai hak untuk mengakhiri nyawanya demi mereka yang akan terancam dan memaafkan dengan membayar Dhiyat. Itulah hak-hak ilahiyah untuk mengakhiri dan menghadapkan jiwa manusia ke Hadirat-Nya dan itulah hak-hak manusia yang dizalimi agar dapat memilih kemaslahatan untuk dirinya dan lingkungannya.

Setelah memakan daging kurban (Al-hadyu) manifestasinya dalam bersyukur, ia pun menangkap isyarat bahwa bukan daging dan darah yang sampai kepada Tuhannya, bukan pula asap yang membakar daging tersebut karena jika daging kurban yang menjadi sakramen seperti masa pra-kenabian dan keberhalaan maka memakannya akab berakibat kemurkaan Tuhan, jika darahnya yang diinginkannya untuk membasuh dosa-dosanya maka mandi dengan darah sembelihan hewan kurban akan menjadi ritual yang penting dan jika asap bakaran yang mengangkat do’anya kepada Tuhannya maka, ia pun tak akan segan memakan bara yang membakar hewan tersebut atau menuliskan arangnya di keningnya menjadi hal yang sakral (QS.22:37). Jelaslah baginya bahwa manfaatnya ia rasakan, kenikmatan bersantap dengan saudaranya dan membayangkan keluarga di rumah menyantap hidangan yang sama dengannya namun semua itu adalah hanya permukaan baginya karena yang bermuara (Yanaala dalam QS. 22:37: memanjat, melambung atau berkembang) kepada Allah adalah ketaqwaan, ketundukan dan totalitas penghambaan seperti Ibrahim dan Ismail saat menerima wahyu pengorbanan, yang mampu menjaga dirinya dari dirinya sendiri karena salah satu tujuan haji adalah pengalaman yang mampu menggugah religiusitas saudaranya di rumahnya (QS.22:28), memberi teladan terhadap lingkungan masyarakatnya serta bersikap bijak dengan tetangganya yang non-muslim.

Bertahallul (bercukur) setelah melakukan jumrah, membuatnya bertanya ke dalam hatinya karena tak mungkin Allah menginginkan cendera mata yang nyaris tak berguna seperti rambutnya dan Tuhannya jelas tak memerlukan DNA seperti profesor-profesor biologi yang ia pernah baca di koran-koran atau Televisi. Akan tetapi saat kepalanya mulai tersentuh dengan halus oleh pusai cukur ia teringat Hadits Nabi yang pernah dinisbatkan kepada Bilal bahwa suara Ni’al (sejenis Sandal atau sepatu gurun) yang sering ia gunakan saat berjalan ke Masjid Nabawi untuk adzan di masa lalu, telah Rasulullah dengar ketukannya di Syurga. Seketika ia hatinya bergembira karena jejak kakinya, keringatnya, dan sehelai rambutnya akan bersaksi untuknya ketika berjumpa dengan Tuhannya dan memungkinkannya menjadi salah satu dari kekasih-Nya.

Tibalah ia di ujung perjalanan yang menjadi awal baginya, yaitu berthawaf wada (Thawaf Perpisahan) dengan keharuan yang menyelimuti hatinya, situs-situs yang menambah keimanannya dan saudara-saudaranya yang ia temui karena Thawaf Wada mengingatkan ia pada Rasulullah sebelum wafatnya, saat ia mengatakan pada sahabat-sahabatnya:…”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.5:3). Menjadi penanda bahwa sebentar lagi akan terputus hubungan selama 23 tahun antara langit dan bumi, Allah dan Rasulnya serta Malaikat Jibril dengan yang diwahyukannya, karena itu Rasulullah segera menyampaikan wasiatnya kepada ummatnya untuk berpegang pada Al-qur’an dan tradisi Nabawi (Sunnah). Maka selesailah tugasnya bersamaan dengan sempurna Islam dan Hajinya seorang muslim.

Hari terakhir di tanah suci ia membawa zam-zam untuk keluarganya dengan tekad di hatinya untuk mencerahkan mereka yang berada di tanah airnya, menghajikan mereka dengan seluruh realitas yang ia temui dan rasakan dalam hajinya tahun ini, karena muslim yang berhaji tiba pada satu realitas bahwa hajinya tahun ini merupakan sebuah perjalanan dalam nuansa mu’jizat antar miqat menuju pembebasan eksistensinya yang mencerahkan bagi mereka yang menyaksikannya karena dengan berhaji muslim diantarkan pada suatu realitas bahwa hajinya merupakan proses dramaturgis perjalanan Ibrahim namun yang membuatnya bernilai adalah memaknai kehidupan setelah berhaji sebagai keadaan berpakaian kain kafan di tubuhnya yang dilakukan dari waktu menuju ruang, dari miqat ke maqam para Nabi, paradigma hushuli menuju hikmah hudluri, aposteriori menuju apriori dan antroposentrisme menuju theosentrisme begitu pun sebaliknya hingga perjalanannya bersama Tuhan menjadikannya imam untuk saudaranya menuju penyatuan pengetahuan dan kehendak dengan Tuhan. Wallahu’alam bishawwab.

Semoga bermanfaat dan menghadirkan hati setelah membacanya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.